
The sky is so clear today. The sound of birds was heard everywhere. Didn't feel like it's been almost 6 months Arin worked at the store. Arin is so passionate in every way he goes about his work. Not to forget he was always grateful because he was still given the opportunity to work.
But over time, some of his friends chose to find work again because the salary given in the store was not large. It makes Arin feel confused, actually he also felt if the salary is too small. Arin also seemed to want to follow in their footsteps looking for a new job.
"Do I have to follow in their footsteps in search of a new job?" inner murmur Arin monologue.
While working Arin did not forget to look for job information. It's just that at this time Arin must focus on doing his work. Actually Arin wants to get a rather large salary so that he can continue his studies.
From the beginning Arin was planning to go to college while working. Arin used to follow the State College Entrance Sieve (SMPTN) only Arin did not graduate at that time. Even if Arin could graduate, he would get a full scholarship.
But a plan is only a plan, we cannot realize all our desires because there is a God Who is All-Regulating Everything. We as ordinary people are only obliged to pray and try, the rest is only the interrogative right of God.
It didn't feel like Arin worked all day. As usual, Arin went home on public transport. While waiting for public transport suddenly there was a voice calling Arin's name.
"Thin!" yelled at someone who called his name.
"Hi Yuni?" arin asked for a moment after looking towards the voice earlier.
"What are you doing here?" tanya Yuni who had been watching Arin ever since.
"I'm waiting for the Angkot to come home" replied Arin.
"Where are you from?" ask Arin back.
"I just entered a job application" Yuni replied.
"Wah kamu mau ngelamar kerjaan dimana?" tanya Arin antusias. Bertemu dengan temannya semasa SMP dulu seolah memberikan sinyal bagi Arin.
"Aku coba ngelamar ke salah satu tempat bimbingan belajar, apa kamu mau ikut nyoba juga?" tawar Yuni.
"Wah, mau, mau.." jawab Arin dengan segera.
"Ya sudah bagaimana kalau besok kita janjian disini?" tanya Yuni.
"Oke siip," jawab Arin yang mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda setuju.
Setelah pembicaraan itu selesai, Arin dan Yuni pun pulang ke rumah masing-masing. Berhubung besok Arin libur, akhirnya ia pun mencoba untuk mencari lowongan pekerjaan bersama Yuni. Satu jam kemudian akhirnya Arin tiba dirumah.
Dirumah Arin harus segera memasak untuk menyambut kepulangan ayahnya. Arin yang hanya tinggal berdua bersama ayahnya, mau tidak mau harus menyiapkan makanan untuk mereka. Arin yang sudah terbiasa membantu ibunya sejak kecil, sudah biasa melakukan pekerjaan rumah termasuk memasak.
Meski hanya masakan sederhana yang ia bisa, tapi itu sudah cukup sebagai bekal kelak saat ia memasuki dunia rumah tangga. Dengan memiliki sedikit keahlian seperti itu, Arin pun akan terbiasa saat sudah menikah nanti. Banyak orang yang selalu memuji Arin karena kepandaiannya.
"Arin memang anak yang pandai, suatu saat jika Arin sudah menikah ia akan terbiasa dengan pekerjaan ibu rumah tangga," ujar salah seorang tetangga yang mengenal Arin dengan baik.
Arin yang mendapatkan pujian itu hanya bisa tersenyum dan bersyukur sebab semua yang ia bisa lakukan saat ini hanyalah karena ibunya. Arin selalu bersyukur meski ia terlahir dikeluarga yang cukup sederhana. Meski dalam segi ekonomi tidak berkecukupan, tapi Arin bersyukur sebab saat ini ia masih diberikan kesehatan.
"Maaf ya aku telat," ujar Yuni saat ia baru saja tiba.
"Its ok, no problem," jawab Arin so-soan pake bahasa inggris.
"Ya sudah ayo kita berangkat!" ajak Yuni.
Mereka pun segera bergegas menuju tempat bimbingan belajar yang cukup terkenal dikota itu. Jaraknya memang cukup jauh, tapi hal itu tidak menyurutkan niat Arin dan Yuni. Mereka tetap bersemangat untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Satu jam kemudian akhirnya mereka tiba disebuah tempat bimbingan belajar. Disana sudah ada beberapa orang yang sama-sama sedang memasuki lamaran pekerjaan. Beruntung saat menyimpan lamaran itu, mereka segera melakukan tes dan wawancara.
Untuk wawancara tidak lah sulit. Untuk tes semua orang diminta untuk mengisi soal bahasa inggris. Arin yang tidak terlalu paham tentang bahasa inggris berusaha mengisi jawaban itu dengan benar. Lain halnya dengan Yuni yang cukup pintar dalam bidang bahasa inggris.
Tak berapa lama akhirnya tes itu selesai. Semua orang diminta untuk mengumpulkan soal dan jawabannya. Setelah diperiksa, akhirnya Arin dan Yuni lolos ke tahap selanjutnya. Akan tetapi satu hal yang membuat Arin bingung, sebelum benar-benar bisa diterima ditempat itu Arin harus mengikuti training selama 2 minggu.
Itupun masih belum tentu jika Arin dan Yuni diterima atau tidak.
"Gimana Yun, apa kamu mau melanjutkan training ini?" tanya Arin bingung.
"Aku bingung Rin, gimana ya? Terus kamu sendiri gimana?" tanya Yuni balik.
"Aku sebenarnya mau sih ikut training, tapi hasilnya kita juga belum tahu kan. Sedangkan saat ini aku masih bekerja ditoko baju itu. Aku takut disaat sudah melepaskan pekerjaan ditoko ternyata disini juga tidak lolos," lirih Arin.
"Iya juga sih ya, bingung aku juga. Ya sudah kamu mending jangan lepasin kerjaan ditoko dulu sampai benar-benar ada kerjaan cadangan," timpal Yuni.
Mendengar saran dari Yuni membuat Arin sedikit lega. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk tidak mengambil training itu. Arin masih tetap bekerja ditoko, sedangkan Yuni masih mencari pekerjaan yang lain. Meski ada kesempatan untuk Yuni bisa diterima, tapi Yuni tidak mau bekerja ditempat orang itu seorang diri.
Tak terasa hampir seharian penuh mereka berada disana dan akhirnya kini mereka kembali pulang untuk berisitirahat. Yuni pulang lebih dulu menggunakan angkutan yang berbeda, sedangkan Arin masih menunggu angkutan yang melewati rumahnya.
Beberapa saat ketika sedang menunggu angkutan, tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang memanggil namanya.
"Rin," teriak Reza yang berlalu melewati Arin. Namun tidak berapa lama motor itu kembali mundur.
"Kak Reza?" tanya Arin yang menautkan kedua halisnya.
"Ayo ikut pulang bareng kakak," ajak Reza.
"Ah tidak usah kak, sebentar lagi juga angkutannya datang," jawab Arin yang merasa tidak enak jika pulang bersama Reza.
"Mana? Belum ada juga, sudah ayo! Lagian kakak juga ada helm 2," ujar Reza lagi yang sedikit memaksa Arin untuk pulang bersamanya.
Meski awalnya menolak, akhirnya Arin pun ikut pulang bersama Reza. Baginya Reza sudah seperti seorang kakak yang selalu ada saat ia membutuhkannya.