RUINED MY HOPE

RUINED MY HOPE
22. The cintia?


Seeing Arin's condition is quite good, today Reza intends to enter the office. For a few days ago Reza had asked permission because his wife was sick. Although Reza does not want to leave his wife alone, Reza must still go to work.


"I'm sorry brother rin, because today brother can't accompany you. Maybe today my sister will start working" Arin said after finishing her breakfast.


"It's okay, sister, Arin is healthier, too" replied Arin as he cleaned the dishes at the dinner table.


"Oiya you have to take care of yourself, do not cape-cape, yes" Reza said as he hugged his wife from behind.


"Yes, sister" answered Arin, hugging her husband.


Reza kissed Arin a few times before he left.


"Ish brother," cried Arin while trying to release Reza's embrace.


"Why? Brother still does not know," said Reza while whispering into Arin's ear and even further tighten his embrace.


"Udah noon loh kak," said Arin reminded.


"Gosh it's 7 o'clock more, you don't remind me, anyway" grumbled Reza while tidying up her clothes and hair.


"I told you earlier, too" Arin said.


"Yes, my sister left first, yes" said Reza, who kissed Arin's forehead before leaving.


"Iya kak, hati-hati dijalan!" seru Arin sambil tersenyum simpul.


Semenjak Reza tahu istrinya sedang hamil, ia menjadi lebih perhatian pada Arin. Reza sangat menyanyangi  dan mencintai Arin. Ditambah kini anggota keluarga mereka akan bertambah. Hal itu semakin menambah kebahagiaan bagi Reza.


Setelah suaminya pergi, Arin seperti biasa membereskan rumah. Tapi kali ini hanya pekerjaan ringan yang ia lakukan seperti menyapu lantai, cuci piring, bahkan mencuci pakaian pun sudah menggunakan mesin cuci. Sehingga tidak akan membuat Arin kelelahan.


Sehabis itu, Arin pergi ke dapur untuk melihat stok makanan. Ia membuka kulkas dan memilih sayuran apa yang akan ia masak hari ini. Akhirnya Arin memasak ayam cabai hijau dan cah kangkung. Tidak lupa ia juga menggoreng tahu kesukaan Reza serta kerupuk sebagai pelengkapnya.


Tak terasa hampir seharian Arin mengerjakan pekerjaan rumah. Setelah masakannya selesai Arin merasa lelah. Ia pun membaringkan tubuhnya diatas sofa.


"Hufft, hari ini begitu melelahkan," ujar Arin sambil mengusap keningnya yang berkeringat.


"Apa lagi ya, rasanya membosankan berada dirumah," ujar Arin lagi.


Beberapa  saat kemudian, Arin pun terpikirkan akan menelpon bibinya untuk memberitahukan tentang kehamilannya. Arin pun mengambil benda pipihnya diatas nakas.


"Halo bi assalamualaikum," ujar Arin.


"Waalaikumsalam rin apa kabar?" jawab Bi Marni yang disebrang sana yang merasa senang karena sudah lama Arin tidak menghubunginya.


"Alhamdulillah baik bi, bibi sendiri gimana? Kakek nenek?" tanya Arin.


"Alhamdulillah baik juga rin," jawab Bi Marni.


"Syukurlah kalau begitu bi. Oiya bi Arin hamil bi," ujar Arin lagi yang langsung memberitahukan maksudnya.


"Wah alhamdulillah, bibi ikut senang. Makanannya harus dijaga ya Rin, perbanyak makan sayur. Jangan kelelahan juga, harus banyak istirahat. Dan jangan lupa minum air kelapa biar bayinya bersih," ucap Bi Marni yang menjelaskan panjang lebar.


"Siap bi, siap," jawab Arin yang merasa senang karena bibinya begitu memperhatikan Arin.


"Ya sudah kalau begitu, Arin tutup telponnya ya bi, assalamualaikum."


"Iya rin waalaikumsalam," jawab Bi Marni yang segera menutup panggilannya.


Mendengar berita kehamilan Arin membuat Bi Marni sangat senang. Bi Marni segera memberitahukan kabar bahagia ini kepada seluruh keluarga terutama kakek dan juga nenek Arin. Semua merasa senang mendengar kabar bahagia ini.


"Bukannya itu Sintia?" gumam batin Reza.


Semakin lama motor Reza pun semakin mendekati Sintia.


"Sintia? Sedang apa kamu disini?" tanya Reza yang sudah melihat Sintia dari kejauhan sedang duduk dihalte bis.


"Reza?" tanya Sintia yang tidak menyangka jika ia akan bertemu mantan suaminya disini.


"Aku, aku sedang menunggu bis," lirih Sintia yang matanya terlihat sembab seperti sudah menangis. Dia bersama anak laki-laki yang berusia sekitar 4 tahunan dan membawa sebuah koper besar.


"Tapi kamu mau pergi kemana? Terus dimana suamimu?" tanya Reza.


"Sudahlah, bukan urusanmu," ujar Sintia yang pergi meninggalkan Reza.


"Tapi Sintia, aku harus tahu kemana kamu akan pergi?" tanya Reza lagi yang merasa bersalah sebab sudah lama sekali ia tidak mencari tahu tentang kehidupan Sintia.


Tanpa menjawab pertanyaan Reza, Sintia pun terlihat bingung. Matanya mulai berkaca-kaca saat saat Reza tanya tentang keberadaan suaminya.


"Apa yang sebenarnya terjadi Sintia? Coba katakan kepadaku," tukas Reza yang merasa kasihan melihat keadaan Sintia sekarang.


"Makan bu, aku lapar," ujar anak laki-laki itu setengah menangis.


"Jadi kalian belum makan?" tanya Reza lagi.


Sintia hanya menggeleng, ia merasa malu dengan apa yang dikatakan anaknya. Sebenarnya Sintia butuh bantuan Reza tapi ia merasa malu jika harus mengatakan masalahnya. Sintia pun hanya terdiam dan mulai berkaca-kaca lagi hingga bulir bening itu jatuh dipipinya.


"Ya sudah kita makan dulu disana," tunjuk Reza ke arah tempat makan yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri.


"Asyik, kita makan," sorak anak kecil itu.


"Iya kita makan ya, siapa namamu?" tanya Reza mengusap rambut anak kecil itu.


"Aku Zidan om," jawab anak kecil itu yang kini terlihat senang.


"Wah nama yang bagus, ayo kita makan!" seru Reza yang langsung menggandeng anak itu. Reza memang sangat menyukai anak kecil. Untuk itu ia bisa langsung akrab dengan Zidan yang baru ditemuinya itu.


Mereka pun akhirnya tiba disebuah restoran yang tidak terlalu mewah namun cukup ramai oleh para pengunjung. Reza segera memesan 2 porsi makanan dan 3 minuman untuk dirinya. Tidak lama pesanan mereka datang. Reza segera menyodorkan makanan dihadapan Zidan dan juga Sintia.


"Kamu sendiri tidak makan?" tanya Sintia yang merasa tidak enak, namun ia begitu kelaparan sejak tadi.


"Tidak, aku masih kenyang. Hanya haus saja," jawab Reza yang segera menyeruput minuman pesanannya.


Zidan yang memang sudah lapar sejak tadi segera melahap makanannya. Meski ia masih sangat kecil, tapi ia mau makan sendiri dan tidak mau disuapi oleh orang lain.


"Makan yang banyak ya!" ujar Reza sambil mengusap rambut anak kecil itu.


"Baik om," jawab Zidan yang mulutnya penuh dengan makanan.


"Setelah ini kalian mau kemana?" tanya Reza lagi setelah melihat makanan Sintia sudah habis.


"Entahlah, aku juga merasa bingung akan pergi kemana," lirih Sintia.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian? Mengapa suamimu tidak mengantarkannya?" tanya Reza lagi.


Mendengar pertanyaan Reza membuat Sintia bingung harus bercerita atau tidak.