
Although actually objected to Sintia who lived in their house, but Arin tried to accept them. Especially if the woman who is staying at home is currently the ex-wife of her husband.
Arin also felt sorry to see the little boy who came with Sintia.
"Hi aunt, introduce my name Zidan. What aunt's name?" ask Zidan who is easily familiar with anyone.
"Hi, just call aunty Arin," replied Arin with a knotty smile. Seeing the boy made Arin could not bear to not let them sleep in his house. Especially now that it's night, making Arin even more heartless.
"Okay aunt Arin," said Zidan, who was so adorable. So that anyone who sees it will love it.
"Please sit down first" Reza said.
"Oiya Arin can come here for a while," Reza, who holds Arin's hand, takes her to the kitchen. Arin immediately followed from behind.
"You don't mind if they sleep here for a few days?" ask Reza to make sure.
"Yes, my brother, it's okay" replied Arin who was confused what to say. Because if you refuse Arin also feel sorry to see Zidan.
After talking to Arin, Reza was relieved because he did not want Arin to misunderstand. Reza just wanted to help Sintia alone, no other purpose. He was only still thinking about his promise to Sintia's father.
"You can sleep in the living room, I've spoken to Arin" Reza said.
"But za, I don't feel like Arin" said Sintia, who felt bad about sleeping in her ex-husband's house. But there is no other choice for Sintia because the night is getting late.
"Sudah lah kasihan Zidan jika kalian harus pergi malam ini, biar besok kita pikirkan lagi semuanya," ujar Reza lagi.
Mendengar kata-kata Reza membuat Sintia terdiam, mau tidak mau ia harus tidur malam ini disini.
"Ini diminum dulu," timpal Arin yang baru saja datang membawa minuman dan beberapa cemilan untuk Zidan.
"Wah sepertinya enak, tapi aku ngantuk banget. Aku minum saja boleh kan tante," ujar Zidan.
"Iya sayang tidak apa-apa," tukas Arin.
"Maaf Arin, aku jadi merepotkanmu," timpal Sintia.
"Tidak, tidak apa-apa kak," jawab Arin sambil tersenyum simpul.
Setelah meminum minumannya, Zidan dan Sintia bergegas menuju kamar tamu. Ia mencoba membaringkan tubuhnya diatas ranjang memikirkan nasib pernikahannya dengan Panji. Sementara Zidan yang kelelahan sudah tertidur pulas di samping Sintia.
"Kenapa aku harus bertemu lagi dengan Reza setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Apa aku bisa melewati semua ini, bagaimana dengan nasib pernikahanku? Apa yang akan terjadi dengan Zidan jika aku benar-benar berpisah dengan Panji. Kasihan sekali dia, di usianya yang masih kecil, Zidan harus mengalami semua ini," lirih Sintia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Hampir sepanjang malam Sintia benar-benar tidak bisa memejamkan matanya. Setelah beberapa saat akhirnya Sintia bisa tertidur juga.
Sementara dikamar lain, Arin dan Reza masih berbicara sambil berbaring. Reza menceritakan segalanya kepada Arin. Sedangkan Arin yang terbaring disampingnya mendengarkan semua penjelasan Reza.
Setelah mengetahui yang sebenarnya membuat Arin merasa iba kepada Sintia. Dia juga merasa kasihan di usianya yang masih kecil Zidan harus menghadapi semua ini.
"Maafkan kakak rin karena kakak langsung membawa mereka kemari. Kakak bingung harus membantu mereka seperti apa, hanya ini yang bisa kakak lakukan," lirih Reza sambil memegang tangan Arin.
"Tidak apa-apa kak, Arin mengerti," ujar Arin yang mencoba memahami Reza.
"Ya sudah kamu tidur ya, sudah malam," ujar Reza yang mengecup pucuk kepala Arin sebelum ia tidur.
"Iya kak," jawab Arin sambil menganggukan kepalanya.
Mereka pun tertidur dengan pulasnya. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Arin sudah terbangun. Seperti biasa Arin menyiapkan masakan di dapur untuk sarapan. Tapi kali ini harus lebih banyak karena ada tamu. Arin mencari bahan makanannya di dalam kulkas.
Saat Arin sedang menyiapkan masakan tiba-tiba Sintia datang ke dapur.
"Boleh aku bantu Arin," tawar Sintia.
"Tidak perlu repot-repot kak, biar aku saja," ujar Arin.
"Tidak repot, aku hanya merasa bosan saja. Aku tidak enak jika hanya berpangku tangan saja," tukas Sintia.
"Ya sudah kak, terserah kakak saja," ujar Arin sambil tersenyum simpul.
Sintia pun segera memotong sayuran yang berada di hadapannya. Sebenarnya Sintia masih kurang mahir memasak, karena itulah Sintia tidak sengaja mengenai tangannya saat memotong sayur.
"Aduh," ucap Sintia sambil memegangi tangannya.
"Kenapa kak?" tanya Arin dan segera menghampiri Sintia dan melihat tangannya berdarah.
"Astaga, tangan kakak berdarah," ujar Arin.
"Ada apa ini ramai sekali?" tanya Reza yang tiba-tiba datang.
"Sintia, kamu kenapa?" tanya Reza yang segera menghampiri Sintia dan memegang tangannya serta melihat luka ditangannya.
"Biar aku obati dulu, Arin tolong ambilkan kotak obat," titah Reza.
"I, iya kak," jawab Arin gagap dan setengah berlari mengambil kotak obat itu. Arin tidak menyangka jika suaminya akan bersikap seperti itu kepada Sintia.
"Ini kak," ujar Arin sambil memberikan kotak obat yang diambil tadi.
"Kenapa rasanya sakit banget ya saat aku lihat kak Reza bersikap seperti itu kepada kak Sintia. Kak Reza ternyata masih sangat memperhatikan kak Sintia. Apa aku cemburu?" gumam batin Arin yang melihat suaminya sedang mengobati Sintia.
Merasa tidak enak dengan Arin, Sintia pun spontan menarik lengannya dari tangan Reza.
"Maaf," ujar Reza yang merasa lupa jika kini diantara mereka sudah tidak ada apa-apa.
Arin yang melihat pemandangan itu pun segera bergegas pergi ke dalam kamarnya. Arin merasa kecewa jika Reza akan bersikap seperti itu.
"Arin tunggu," panggil Reza yang melihat Arin berlari.
"Arin maaf, kakak tidak bermaksud," ujar Reza dengan nafas yang terengah.
"Tidak apa-apa kak, Arin baik-baik saja," jawab Arin singkat yang menyembunyikan perasaannya. Sebenarnya Arin merasa cemburu dengan apa yang dilihatnya barusan, akan tetapi Reza seperti tidak peka dengan keberadaan Arin.
"Ya sudah Arin mau melanjutkan pekerjaan Arin dulu," pamit Arin yang segera bergegas ke dapur.
Reza pun merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Kenapa ia tiba-tiba bisa bersikap seperti itu pada Sintia.
"Aku tidak menyangka, jika kak Reza akan bersikap seperti itu kepada kak Sintia," gumam batin Arin.
Untuk menghilangkan pikiran negatif dari dirinya, Arin pun segera menyibukkan dirinya melakukan semua pekerjaan yang tertunda tadi.
"Sampai kapan kak Sintia berada disini ya? Aku merasa tidak nyaman jika dia berada disini, aku takut jika kak Reza akan melakukan hal seperti itu lagi.