
A few days later Arin still can't forget the events of that night with Reza. Even until this moment Arin still cursed himself. Arin was disappointed in himself. Arin never thought that in his life he would do that before marriage.
"What should I do? Should I get married soon? But I'm not ready to be a wife. I still want to be free and reach for my ideals" said Arin, who was lying on the bed.
Today Arin deliberately took a leave of absence because he felt unwell after yesterday's incident. After doing so Arin came home drenched in rain. Arriving at home, Arin again punished himself by dousing his body with a shower in the bathroom.
That's what caused Arin to finally catch a cold. He felt if his whole body felt pain and his head was a little dizzy. Not long after Arin's phone rang. Then Arin was forced to wake up from his sleep and take the flat object on the nightstand.
At first Arin did not pick up his phone, but eventually he picked it up for fear that the phone was an important phone. Without seeing from whom the call was Arin immediately picked it up because his phone was ringing since earlier.
"Hallo, who do you want to talk to? Is this Reza's sister?" replied Arin who immediately picked up the phone without seeing who called him.
"That's why you're okay." asked Reza across the street.
"Yes, I'm just a little unwell."
"What's? Then I'll come and bring you some food."
A few minutes later, the call ended. Arin did not think that the one who called him was Reza. But Arin was so angry with Reza because of yesterday's incident. How Arin had to dodge while Reza was on his way to his house.
Elsewhere, Reza is worried after finding out that Arin is not feeling well. Reza felt guilty because of yesterday's incident.
"Is Arin sick because of yesterday?" inner murmur Reza.
Before leaving for work, Reza plans to visit Arin first. On the way to Arin's house, Reza buys breakfast porridge for Arin. At high speed Reza launched his vehicle. Reza was really worried about Arin's current state. Half an hour later, Reza arrived at Arin's house.
"Permisi, rin! Ini kakak," pekik Reza sambil mengetuk pintu.
Tak berapa lama Arin pun datang membukakan pintu.
"Kak Reza? Kenapa ke sini?" tanya Arin.
"Gimana keadaan kamu sekarang? Sebaiknya kita pergi ke dokter," ujar Reza yang merasa sangat khawatir dengan keadaan Arin.
"Aku tidak apa-apa kak. Aku hanya pusing biasa saja," jawab Arin lirih.
"Ini kakak bawakan bubur buat kamu," ujar Reza yang menyodorkan bungkusan hitam yang berisi bubur.
"Makasih kak, kenapa harus repot-repot segala," ucap Arin.
"Eh sampe lupa, duduk dulu kak," tawar Arin.
"Tidak apa-apa, kakak hanya mampir sebentar karena harus segera berangkat bekerja," jawab Reza.
"Oiya, kakak minta maaf dengan kejadian kemarin. Kakak akan bertanggungjawab," tukas Reza sebelum berangkat meninggalkan rumah Arin.
"Entahlah kak, nanti akan aku pikirkan," jawab Arin.
"Iya kak," jawab Arin sambil menganggukan kepalanya.
Arin merasa sangat bingung harus berbuat apa. Apakah Arin harus segera menikah apa tidak? Jika menikah mungkin Arin tidak akan bisa mewujudkan semua harapannya. Namun jika tidak Arin juga merasa bingung karena Arin takut jika menikah dengan orang lain akan bagaimana.
Ibarat buah simalakama, Arin merasa bingung dan terjebak dengan sebuah keputusan yang besar ini. Tidak menikah bagaimana, menikah pun bagaimana. Rasanya sangat sulit memikirkan ini semua. Jika bisa memilih Arin hanya ingin menjadi anak sekolah saja yang tidak memikirkan banyak hal.
Betapa rumitnya menjadi seorang yang dewasa. Begitu banyak hal yang harus dipikirkan dan begitu banyak hal yang harus diputuskan. Hanya saja itu hanya sebuah angan semata. Tidak mungkin jika kita harus menolak takdir yang terjadi dalam kehidupan kita.
Ditambah Arin yang tidak memiliki seorang ibu, merasa bingung harus bercerita kepada siapa. Setiap ada masalah, Arin hanya memendamnya sendiri. Tidak ada orang lain yang ia percaya. Hal itulah yang membuat Arin tidak pernah mengeluh jika ia sedang tertimpa masalah.
Meski selama ini Arin tinggal berdua bersama ayahnya, tapi hal itu tidak membuat Arin terbuka terhadap ayahnya. Arin tidak pernah menceritakan hal apapun kepada ayahnya. Hal itu terjadi sebab ayahnya tidak begitu simpati kepada Arin, sehingga ada jarak diantara mereka.
Jangankan menangis, menunjukan jika ia sedang bersedih saja rasanya Arin tidak bisa. Arin selalu bisa menutupi setiap masalahnya. Bagi Arin masalah tidak perlu diumbar atau harus diceritakan kepada orang lain. Cukup dirinya saja yang tahu dan merasakan setiap permasalahan yang terjadi dalam hidupnya.
Keesokan harinya, ayah Arin baru saja tiba dari luar kota.
"Assalamualaikum," ujar Pak Cokro sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam warrohmatullohi wabarokatuh, ayah sudah pulang," jawab Arin yang terlihat senang saat ayahnya pulang.
"Kenapa ayah tidak memberikan kabar jika pulang hari ini, kan Arin bisa nyiapin makanan buat ayah," tukas Arin sambil menyalami ayahnya.
"Ah itu pasti akan merepotkanmu nak. Lagi pula ayah membeli beberapa makanan di jalan tadi," ujar ayahnya sambil menyodorkan keresek hitam berisi beberapa macam makanan.
"Wah asyik banyak makanan," ujar Arin yang langsung membuka isi dari kantong keresek tersebut.
"Wah ada soto, gorengan, martabak coklat kesukaan Arin. Makasih yah," ujar Arin yang langsung melahap makanan kesukaannya.
"Kalau begitu, ayah istirahat dulu Yah," pamit Pak Cokro sambil berlalu menuju kamarnya. Perjalanan yang cukup jauh membuat Pak Cokro sangat lelah.
"Ayah tidak makan dulu?" tanya Arin.
"Ayah sudah makan tadi dijalan," jawab Pak Cokro.
Arin pun hanya menganggukan kepalanya dan melanjutkan melahap makanannya satu persatu. Setelah ayahnya masuk ke dalam kamar membuat Arin berfikir kembali tentang pernikahannya. Entah apa yang harus Arin katakan kepada ayahnya.
"Bagaimana caranya ngomong sama ayah ya? Apa yang harus aku katakan?" gumam batin Arin bermonolog.
Arin berfikir sejenak, memikirkan bagaimana, apa yang harus ia lakukan. Untuk beberapa saat pikirannya melayang hingga akhirnya Arin pun berfikir untuk menemui bibinya di desa. Selain itu, disana juga ada kakek dan neneknya. Mungkin dengan berbicara kepada mereka akan membuat Arin mendapatkan jawaban atas apa yang dipikirkannya.
"Ya sepertinya aku harus menemui bibi dulu di desa. Aku akan menceritakan tentang pernikahan kepada bibi," gumam batin Arin yang merasa bersemangat.
Satu minggu kemudian, akhirnya Arin pergi menemui bibinya di desa. Selain bibinya, disana juga masih ada kakek dan juga neneknya, serta beberapa saudara dari almarhum ibunya.