
Since her conversation with Reza yesterday, Arin now feels uneasy. Arin always felt jealous when she heard her husband helping Sintia. Although Arin is not suspicious, but somehow Arin always feels if Reza still loves his ex-wife.
"I can't see you like this, brother. I don't like to see my sister always thinking about Sintia's sister," muttered Arin as she was struggling in the kitchen making coffee.
While Reza who watched his wife from a distance was astonished. Arin is not usually like that. It's been a few days now that Arin feels so cold.
"What does Arin think? Did I make a mistake" muttered Reza.
Soon Arin came from the kitchen with a hot cup of coffee for her husband. There was no smile like he always did. It's been a few days that Arin feels so stiff. It feels to say that Arin does not want to, but it is impossible if it happens.
"This is the coffee leg" said Arin, putting coffee on the table and leaving Reza.
"Thank you Rin" said Reza, who felt something was wrong with Arin.
"Wait for Rin, what's wrong with you?" ask Reza.
"I'm fine. I'm going to the kitchen first, brother, my work is not done yet" replied Arin.
"Why do you feel like you're avoiding your sister" Reza said as Arin stepped up.
"Ah it's just a big brother feeling" said Arin as he accelerated his pace. Although Arin felt bad about Reza's attitude to Sintia, but Arin could not express his awkwardness. Arin couldn't express his feelings if he didn't like all this.
Arin's habit is that he always harbors his own problems. He doesn't like having to tell others about his problems.
"I'm sorry, brother, I better not talk about this. Because it's useless if I tell everything, anyway brother will never understand," murmured Arin.
"Aku yakin Arin pasti sedang memikirkan sesuatu. Apa Arin cemburu saat aku menceritakan tentang Sintia kemarin," gumam batin Reza bermonolog.
Ditengah lamunannya tiba-tiba, ponsel Reza berdering. Ia pun segera mengangkat panggilan itu. Ternyata panggilan itu berasal dari Sintia. Sintia mengatakan jika ia akan ikut bergabung di perusahaannya. Reza pun meminta Sintia untuk datang besok pagi ke kantornya.
"Halo Za, ak sepertinya akan mengambil tawaran itu," ujar Sintia dari sebrangĀ sana.
"Apa benarkah? Aku sangat mendengarnya. Besok kamu langsung datang aja ke kantor," jawab Reza antusias.
"Baiklah, terima kasih," pamit Sintia yang segera mengakhiri panggilannya.
Keesokan harinya..
Pagi-pagi sekali Reza sudah pergi ke kantor. Reza merasa jika Arin mungkin masih merasa kesal kepadanya, sebab sejak kemarin Arin masih bersikap dingin padanya. Reza pun sengaja tidak berpamitan saat ia akan pergi bekerja. Namun begitulah seorang wanita, ia merasa tidak suka jika suaminya tiba-tiba pergi begitu saja.
"Ish kenapa kak Reza tidak pamit dulu ya? Biasanya dia kan bilang dulu kalau mau pergi ke kantor," ujar Arin yang merasa tidak senang dengan sikap Reza.
Tanpa berfikir panjang Reza pun segera bergegas pergi dari rumahnya. Ia ingin cepat-cepat pergi ke kantor karena takut Sintia akan datang lebih dulu. Reza mengendarai kendaraannya dengan kecepatan yang tinggi. Sehingga satu jam kemudian tibalah Reza dikantornya.
Reza segera turun dan segera bergegas menuju ruangannya.
" Permisi pak, ada seseorang yang sudah menunggu anda sejak tadi," ujar seorang resepsionis yang menunjuk ke arah Sintia.
"Siapa?" tanya Reza.
"Itu pak, dia sedang duduk sejak tadi menunggu bapak," tunjuk resepsionis itu pada seorang wanita yang sedang menunggu kedatangan Reza sejak tadi.
'Sintia? Kamu sudah datang dari tadi?" tanya Reza yang merasa tidak enak karena Sintia harus menunggunya.
"Iya tidak apa-apa," jawab Sintia.
"Baiklah," jawab Sintia yang segera mengekor dibelakang Reza.
Beberapa detik kemudian tibalah mereka diruangan Reza.
"Silahkan duduk," tawar Reza.
"Terima kasih," jawab Sintia.
"Jadi bagaimana Sintia apa kamu sudah memiliki pilihan?" tanya Reza membuka pembicaraan.
"Iya Za, sepertinya aku akan mengambil pekerjaan ini. Aku lakukan semua ini hanya demi Zidan, aku ingin memberikan yang terbaik untuk Zidan," lirih Sintia.
"Bagus kalau begitu. Aku tahu, kamu pasti akan mengambil kesempatan ini," ujar Reza yang merasa sangat yakin dengan pilihan Sintia.
"Kapan aku mulai bekerja? Aku harus bekerja dibagian mana?" tanya Sintia.
"Tenang Sintia, kamu adalah pemilik dari perusahaan ini juga. Kamu berhak ada di posisi mana saja yang kamu inginkan," jawab Reza.
"Tapi aku tidak bisa seperti itu, aku akan mengikuti semua perintahnmu," ujar Sintia lagi.
"Tidak Sintia kamu berhak memiliki semua ini, karena ini masih milik ayahmu. Pamanmu lah yang mengurusnya selama ini," timpal Reza lagi.
"Benarkah itu?" tanya Sintia yang masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Tentu benar Sintia, kamu sangat berhak mendapatkan ini semua," timpal seseorang dari arah belakang yang tidak lain adalah paman Sintia sendiri.
"Paman?" tanya Sintia yang masih tidak percaya.
"Iya ini pamanmu," jawab paman Sintia.
"Maafkan aku paman, sebab dulu aku selalu bertindak tidak baik pada paman," lirih Sintia yang menyesali perbuatannya dan langsung memeluk pamannya.
"Tidak ala Sintia, yang lalu biarlah berlalu. Yang terpenting saat ini paman lihat kamu sudah banyak berubah," ujar sang paman yang langsung memeluk keponakannya itu.
"Iya paman terima kasih," jawab Sintia.
"Selamat bergabung diperusahaan ini, Reza sudah mengatakan semuanya. Benar apa yang dikatakan Reza, kamu bisa memilih ingin bekerja dibagian apa saja terserah," jelas paman Sintia.
"Ah tidak paman aku ingin bekerja seperti karyawan biasa saja," jawab Sintia.
"Baiklah kalau itu yang memang sudah menjadi keputusan kamu, paman tidak bisa berbuat apa-apa," timpal paman Sintia.
Sejak hari itu Sintia mulai bekerja di perusahaannya sendiri. Sintia memilih bekerja sebagai staf biasa, bukan sebagai pemilik perusahaan. Sintia terpaksa harus menerima tawaran Reza karena ia tidak memiliki pilihan lagi.
Kehidupannya harus terus berjalan. Ia harus bekerja keras hanya untuk anaknya. Sedangkan Panji tidak pernah melakukan kewajibannya sebagai ayah kandungnya. Mungkin inilah yang harus Sintia terima atas perbuatannya dulu kepada Reza.
Sintia pernah mengabaikan Reza, tidak menyukai Reza, bahkan tidak pernah memperdulikan Reza sebab ia tidak mencintainya. Namun walaupun demikian, Reza tidak pernah membalas perilaku Sintia. Bahkan kini Reza lah yang selalu menolong Sintia saat ia sedang berada dalam kesulitan.
"Terima kasih banyak Za, kamu selalu saja menolongnya," ujar Sintia yang menundukkan kepalanya.
"Sama-sama Sintia, ini sudah menjadi tugasku. Bukankah kita harus saling tolong-menolong," jawab Reza.