
Sintia wait!" call Reza who sees Sintia pass in front of him.
"I'm sorry Sintia, I didn't mean to" said Reza, who did not continue his words because he was ashamed of Sintia.
"It's Za, don't talk about it. Besides, I am also guilty because," said Sintia who did not continue her words because Sintia also felt that this was also her fault.
For a moment they were silent. No words came out of both of their mouths. Reza felt guilty, as did Sintia.
"What if Arin finds out about last night?" sintia asked who suddenly thought of Arin. As a woman Sintia certainly knows the truth with what Arin feels if he finds out.
"Let's know I'm confused too" said Reza, who was anxious when Sintia asked about it.
"Then excuse me" said Sintia who immediately rushed to leave Reza.
"Yes." replied Reza briefly.
Reza immediately rushed towards his room. In the room Reza could not think clearly. Reza kept thinking about last night with Sintia. While Sintia began to busy himself so that he could quickly go home.
Elsewhere Zidan was preparing to go home soon after almost a day of school. Zidan had been sleeping with his father for a few days. Zidan was so happy that he could sleep with his father again.
Panji has been waiting for his son. Panji deliberately wanted to pick her up so that he could deliver her to his mother.
"Hi dear," said Panji to his son who had just dropped out of his class.
"Papah.." teriak Zidan yang segera berlari menuju ayahnya dan langsung memeluknya.
"Kita pulang yah," ajak Panji sambil membalas pelukan anaknya.
"Ok yah!" ujar Zidan yang mengangkat jempolnya sebagai tanda setuju.
Sudah beberapa hari Zidan menginap di rumah ayahnya. Dia merasa senang dan bahagia. Begitupun dengan Panji yang merasa begitu bahagia saat bisa bersama dengan Zidan. Apalagi jika bisa bersama dengan Sintia, kebahagiaan itu pasti akan semakin lengkap.
Hari ini Panji berencana untuk mengajak Sintia kembali. Panji berharap jika Sintia akan menerimanya kembali.
Satu jam kemudian akhirnya Panji dan Zidan tiba dirumah.
"Aku pulang," teriak Zidan saat masuk ke dalam rumahnya.
"Hai sayang, apa kabar? Mamah kangen banget sama kamu," ujar Sintia yang ternyata sudah sampai lebih dulu di rumahnya. Sintia pun langsung memeluk anaknya dengan begitu erat karena sudah beberapa hari mereka tidak bertemu.
"Aku baik mah, mamah sendiri gimana? Mamah ngapain aja selama aku tidak ada dirumah?" tanya Zidan lagi layaknya orang dewasa.
Deg..
Pertanyaan Zidan sontak membuat Sintia terkejut. Sintia terdiam dan teringat akan kejadian kemarin malam bersama Reza. Entah apa yang akan Sintia katakan, yang jelas tidak mungkin jika Sintia harus mengatakan yang sebenarnya.
"Mah, mamah? Kenapa mamah diam saja?" tanya Zidan sambil memegang tangan Sintia.
"Eh iya sayang maaf," ujar Sintia yang merasa kebingungan harus menjawab apa.
"Ya sudah kamu cepat mandi sana, setelag itu kita makan ya," titah Sintia mengalihkan pembicaraan.
"Ok Mah," jawab Zidan yang segera berlari menuju kamarnya dan bergegas mandi.
Sintia pun merasa lega karena Zidan sudah pergi mandi. Sedangkan Panji masih berdiri di ambang pintu. Dia tidak berani masuk sebelum sang pemilik rumah mempersilahkannya untuk masuk.
"Boleh aku masuk," ujar Panji sesaat sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah.
"Tentu silahkan, oiya mau minum apa?" tanya Sintia.
"Ya sudah akan aku buatkan kopi kalau begitu," pamit Sintia yang segera bergegas menuju dapur untuk membuat kopi.
Tak berapa lama Zidan datang setelah ia beres mandi. Sintia yang sudah selesai membuat kopi segera memberikannya kepada Panji. Setelah itu ia lanjutkan memasak untuk makan malam.
"Mah sudah selesai masaknya?" tanya Zidan yang merasa perutnya sudah keroncongan.
"Sebentar lagi sayang, tunggu sebentar ya," jawab Sintia yang masih berkutat di dapur.
Sebenarnya sudah sejak tadi Sintia menyiapkan masakannya, kini hanya tinggal sedikit lagi yang perlu ia selesaikan. Akhirnya setelah beberapa menit menunggu, masakan Sintia selesai juga.
Sintia memasak ayam kecap kesukaan Zidan dan cah kangkung, tak lupa ia juga membuat sambal dan juga kerupuk sebagai pelengkap. Kini mereka pun makan bersama di meja makan.
"Ayo sayang makan dulu, makanannya sudah siap," ujar Sintia yang baru selesai menghidangkan makanan diatas meja.
"Wah ayam kecap, sudah lama aku tidak makan masakan mamah," timpal Zidan yang merasa sangat senang.
"Ayo pah!" ajak Zidan yang meraih tangan Panji.
"Iya nak, ayo!" tukas Panji yang kini mengekor dibelakang Zidan.
Mereka bertiga pun akhirnya makan bersama. Zidan merasa sangat bahagia karena ia seperti memiki keluarga yang utuh. Begitupun dengan Panji yang merasa sangat bahagia bisa makan bersama seperti ini.
Sintia pun mulai mengambilkan nasi untuk Zidan dan juga Panji.
"Terima kasih," timpal Panji setelah menerima piring dari Sintia.
"Sama-sama," tukas Sintia yang kini mengambil nasi untuk dirinya sendiri.
Tidak ada pembicaraan khusus saat mereka sedang makan. Semua tertib dan sibuk menyendokan nasi masing-masing. Tak berapa lama akhirnya mereka selesai makan.
"Aku merasa senang karena bisa makan bersama seperti ini," ujar Zidan polos setelah menyelesaikan makannya.
Tidak ada jawaban dari Panji dan Sintia, mereka hanya beradu pandang seolah bingung harus mengatakan apa. Sintia hanya tersenyum kecil pada Panji, begitupun sebaliknya.
"Kalau sudah Zidan masuk kamar ya, cepet tidur karena sekarang sudah malam," ujar Sintia yang melihat waktu menunjukan pukul 8 malam. Sintia segera membereskan meja makan yang sudah selesai digunakan.
"Iya mah, aku mau gosok gigi dulu lalu tidur," tukas Zidan yang segera berlari ke kamarnya.
"Kalau begitu papah pulang ya," pamit Panji sesaat sebelum Zidan pergi ke kamarnya.
"Yah papah, kok pulang," timpal Zidan yang merasa kecewa karena mendengar ayahnya harus pulang. Padahal ia merasa senang saat ayahnya berada bersama mereka.
Namun setelah diberi pengertian akhirnya Zidan memberikan izin pulang kepada Panji. Dan tidak berapa lama akhirnya Zidan bergegas pergi ke dalam kamarnya setelah ia berpelukan dengan ayahnya.
"Habiskan dulu kopinya," timpal Sintia.
"Baiklah," jawab Panji yang kembali duduk diruang tamu.
Panji menyeruput kopinya sesekali karena masih panas. Tak lupa ia pun segera mengeluarkan tokonya didalam saku celananya.
"Oiya Sintia boleh aku mengatakan sesuatu," ujar Panji setelah menyesap rokoknya.
"Ya kenapa?" tanya Sintia.
"Aku mohon tolong berikan aku kesempatan yang kedua Sintia, aku merasa tidak tega melihat Zidan. Dia terlihat begitu bahagia saat kita makan bersama tadi, karena akupun merasa sangat bahagia saat bisa bersama kalian," lirih Panji.