
The most difficult thing is to miss someone who is gone. Likewise with Arin who at the time was missing her mother, Arin could not do anything but pray for her.
Staring at his daughter Quenza made Arin feel at peace. Arin hopes that if his daughter will grow up to be a woman who is sholeh, devoted to parents and become a child who is beneficial to religion and country.
When he saw Quenza who fell asleep, it made Arin remember the departure of his mother a few years ago.
The Flashback
Today, as usual, Arin is getting ready to go to school. Her mother, Bu Sofia works at a convection place that specifically makes baby and child clothes. It's been years that Sofia's been working at that place.
Koko and Cici, who are from China, have lived in Indonesia for a long time. They also set up a factory that is now a livelihood for Bu Sofia. Bu Sofia deliberately works to help the economy of the Arin family.
Since he was a child, Arin always worked with his mother. Bu Sofia always goes to work using public transportation, which is what makes little Arin feel happy when joining her mother.
Now it does not feel that Arin has stepped on 3rd grade Junior High. At school Arin actively follows the extracurricular PMR (Palang Merah). In addition to being busy following these activities, Arin also has a very special friend.
"I'm home" Arin said as he returned home.
"Kok coming home late, son?" ask Bu Sofia.
"Sorry mah, I have an exkul," replied Arin who was always following the activity.
"Oh yes you have changed clothes there quickly, after that eat yes," said Bu Sofia.
"Iya mah siap," jawab Arin yang segera bergegas ke dalam kamarnya.
Sejak sakit-sakitan Bu Sofia memang sudah lama tidak bekerja. Ia terpaksa harus keluar dari pekerjaannya karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Dulu pernah saat Bu Sofia tidak bekerja, Cici dan Koko selalu menyusul untuk bekerja kembali.
Saat itu Bu Sofia, memang masih sangat segar bugar. Tapi kali ini rasanya Bu Sofia cepat lelah.
"Kenapa mamah harus masak segala, aku kan bisa masak sendiri," ujar Arin sesaat sebelum menyantap makanannya. Bukannya tidak senang jika kita sudah diperhatikan sebegitunya oleh ibu kita. Namun saat ini kondisi Bu Sofia begitu lemah. Sehingga jika ia terlalu lelah maka kemungkinannya akan fatal.
"Tidak sayang, tidak apa-apa. Mamah baik-baik saja," tukas Bu Sofia yang selalu menutup-nutupi penyakitnya. Padahal Bu Sofia tidak boleh terlalu lelah.
Penyakit Bu Sofia berawal saat ia melahirkan Arin. Setelah melahirkan Arin, jantung Bu Sofia terganggu. Untuk itu Bu Sofia tidak bisa memiliki seorang anak lagi karena nyawanya akan terancam.
Sudah beberapa bulan Bu Sofia resign dari tempat kerjanya. Sudah beberapa bulan juga ia berada di rumah. Untuk saat ini Bu Sofia hanya fokus mengurus Arin. Bu Sofia merasa sangat bersalah karena sejak kecil ia selalu meninggalkannya untuk bekerja.
Saat itu saat Arin baru pulang sekolah, Bu Sofia sedang berbaring dan memakai selimut.
"Rin, tadi mamah keracunan obat. Mamah muntah-muntah," lirih Bu Sofia yang langsung menceritakan tentang apa yang dirasakannya.
"Apa? Kok bisa? Tapi gimana sekarang keadaan mamah?" tanya Arin yang langsung khawatir setelah mendengar mamanya bercerita.
"Beruntung mamah tidak apa-apa, hampir saja mamah akan," lirih Bu Arin yang tidak melanjutkan kata-katanya.
"Jangan bilang seperti itu mah," timpal Arin dengan mata yang berkaca-kaca. Kini Arin mendekati Bu Sofia, sementara beliau bersandar pada tembok yang sebelumnya dilapisi bantal. Tiba-tiba saja Arin ingin tidur dipangkuan Bu Sofia.
"Baik-baik di rumah ya nak. Jangan lupa makan dan sholat jangan sampai di tinggalkan," ujar Bu Sofia yang tak henti-bentinya mengusap kepala Arin.
Tidak ada jawaban apapun dari Arin. Entah mengapa setelah mendengar nasehat dari ibunya, spontan air mata Arin tumpah tak tertahankan. Arin merasa sangat sedih. Arin pun memeluk mamanya sambil tertidur di pangkuannya. Untuk beberapa saat mereka pun berpelukan.
"Sudah makan dulu nak," ujar Bu Sofia sambil mengusap kepala Arin.
Arin pun sontak terbangun. "Tapi aku tidak lapar mah," tukas Arin sambil menyeka air matanya yang masih saja terjatuh.
"Jangan seperti itu nak, cepat makan dulu ya," titah Bu Sofia dengan lembut.
Arin pun mengangguk dan segera bergegas ke dapur untuk makan. Selesai makan Arin segera melaksanakan sholat dzuhur, setelah itu ia berdoa. Dalam doanya Arin meminta kesembuhan untuk sang ibu dan semoga ibunya diberi umur yang panjang.
Beberapa hari kemudian, Bu Sofia sakit parah. Namun untuk kali ini beliau tidak ingin berobat kemanapun. Yang Bu Sofia inginkan hanya bisa pulang ke rumah orang tuanya di desa.
Akhirnya pagi itu Pak Cokro memesan taksi online. Mereka semua pergi ke kampung halaman Bu Sofia, sebab memang sedari dulu mereka merantau dikota besar. Dua jam dalam perjalanan terasa begitu melelahkan.
Sesampainya dirumah Pak Cokro segera membopong istrinya ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," sapa Pak Cokro sesaat sebelum masuk ke rumah.
"Teh Sofi kenapa?" tanya Bi Marni yang merupakan adik dari Bu Sofia.
"Sudah beberapa hari ini tetehmu sakit, dan tadi pagi dia minta diantar pulang kemari," lirih Pak Cokro.
Sementara Arin hanya bisa menangis sejak dalam perjalanan.
"Kamu kenapa Sofia? Kenapa harus seperti ini?" ujar nenek yang tidak lain merupakan ibu dari Bu Sofia. Sudah sejak lama mereka memang tidak bertemu. Kali ini saat bertemu, anaknya ternyata sedang sakit keras.
Tidak ada jawaban apapun dari mulut Sofia, ia hanya bisa menangis.
"Aku ingin pulang ke sini bu," lirih Bu Sofia.
"Iya sekarang kamu sudah ada disini," timpal ibunya sambil mengusap kepala anaknya.
"Sabar sayang, nanti juga ibumu akan segera sembuh," ujar Bi Marni yang menghampiri Arin yang terlihat begitu sedih. Sejak kedatangannya tadi Arin tidak henti-bentinya menangis.
"Iya bi," lirih Arin sambil menyeka air matanya.
"Kamu istirahat dikamar ya. Biarkan ibumu beristirahat," timpal Bi Marni lagi.
Tidak ada jawaban apapun dari mulut Arin. Ia hanya segera bergegas masuk ke dalam kamar. Ia mencoba memejamkan matanya sejenak.
Beberapa tetangga yang datang menjenguk terdengar sedang mengaji. Sementara Arin masih saja terisak di dalam kamar. Pikiran Arin melayang ke sana kemari. Arin merasa takut memikirkan tentang kata-kata ibunya kemarin. Entah mengapa Arin tidak bisa tidur nyenyak semenjak mendengar kata-kata ibunya.