
Today Arin plans to say his wish to his father. Although Arin hesitated a little, but he tried to tell the truth. But before he tells his father, Arin meets with Reza first to ask for his opinion.
Arin and Reza had already planned to meet at the usual place. Arin who had first arrived apparently had not seen the arrival of Reza.
"Sorry big brother is late," said Reza who suddenly came with gasping breath.
"Yes, no, nothing. I just came anyway" replied Arin.
"Yes, we ate there just as much as we drank" Reza said.
"I just want to drink, brother," said Arin again.
"But the laper brother wants to eat" said Reza, who was like a child.
"Yes, my sister ate a meal" said Arin again.
"Please order fried rice yes, the drink is free," said Reza.
"Ok brother," replied Arin as he pointed his thumb as a sign of agreement.
Before discussing the essence of his meeting, Reza ate his food first. Arin understood that when he came home from work he would feel tired. But Arin did not order food because he was still quite full. Arin just drank his favorite chocolate ice.
"So how's rin?" reza asked after devouring his food.
"Aku mau bicara sama ayah kak, menurut kakak gimana?" tanya Arin lagi.
"Ya sudah kamu bilang aja dulu kalau kita mau menikah. Kalau misalnya ayah kamu menanyakan kakak, baru kakak akan ke rumah menemui ayah kamu," jelas kak Reza.
"Ya sudah kalau begitu kak, aku akan membicarakannya sekarang juga," timpal Arin.
"Iya rin, kakak doakan semoga berhasil ya," ujar Reza sebelum Arin pergi.
"Iya kak aamiin," jawab Arin yang mengamini doa Reza.
Setelah pertemuan singkat itu, akhirnya Arin segera bergegas pulang. Sudah cukup lama Arin berada ditempat itu. Yang Arin inginkan sekarang adalah segera sampai dirumah untuk membicarakan keinginannya bersama Reza.
Sesampainya dirumah ternyata ayah sudah pulang lebih dulu. Arin membiarkan ayahnya untuk makan dan membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah ayahnya terlihat santai baru Arin akan menghampirinya.
Setelah beberapa menit menunggu, Arin memperhatikan ayah yang sedang duduk di ruang tamu. Itu artinya ayah sudah santai. Dengan segera Arin pun menghampiri ayahnya.
"Yah," ujar Arin sambil duduk disebelah ayahnya.
"Iya nak, ada apa?" tanya ayahnya yang merasa heran, karena tidak biasanya Arin membuka pembicaraan.
"Begini yah, Arin ingin menikah," ucap Arin lirih.
"Apa? Menikah? Ayah tidak salah dengar?" ulang ayah yang merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Iya yah, Arin ingin menikah," ucap Arin sekali lagi.
"Dengan kak Reza yah,"jawab Arin.
"Apa Reza? Kenapa harus dia? Apa didunia ini tidak ada laki-laki lain selain Reza?" pekik ayah yang mulai terkejut mendengar nama Reza. Sejak awal Pak Cokro memang tidak terlalu suka dengan Reza. Entah apa alasan yang membuat ayah tidak menyukai Reza. Yang jelas Arin juga merasa terkejut ketika melihat ekspresi ayahnya.
"Memangnya kenapa dengan kak Reza yah?" tanya Arin yang menautkan kedua halisnya.
"Bukannya dia punya istri?" selidik Pak Cokro.
"Iya yah, tapi dia sudah berpisah dengan istrinya," ujar Arin lagi.
"Ayah kurang setuju jika kamu menikah dengan dia," tukas ayahnya lagi.
"Tapi yah," lirih Arin lagi.
"Tidak ada tapi-tapi, pokoknya ayah menolak dan tidak akan memberikan restu untuk kalian!" pekik ayah nya sekali lagi
Setelah mendengar jawaban dari ayahnya, Arin merasa sedih dan bingung. Jika saja Arin belum melakukan itu, mungkin Arin akan menuruti ayahnya. Hanya saja yang membuat Arin terpaksa menikah dengan Reza karena itu saja. Arin tidak pernah membayangkan jika ia menikah dengan orang lain, dan orang itu tahu jika Arin pernah berhubungan dengan laki-laki lain. Entah apa yang akan Arin perbuat.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arin segera bergegas ke dalam kamarnya. Arin merasa bingung harus menjelaskan apa kepada ayahnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Ayah ternyata menolak permintaanku," lirih Arin dengan mata yang berkaca-kaca.
Pikirannya melayang memikirkan hal yang ia sendiri merasa bingung harus berbuat apa. Tidak berapa lama Arin pun segera menghubungi Reza dan segera menjelaskan semuanya. Reza yang mendengar hak itu pun merasa terkejut. Reza tidak menyangka jika ayah Arin akan menolaknya hanya karena ia tahu bahwa Reza sudah menikah. Didalam Arin tidak bisa memejamkan matanya karena memikirkan hal tadi. Hampir tengah malam Arin memikirkan itu semua, namun semakin larut akhirnya Arin terlelap juga.
Diluar Pak Cokro juga merasa bingung dan sangat terkejut karena permintaan Arin yang tiba-tiba. Yang membuat Pak Cokro menolak adalah bukan karena keinginan Arin ingin menikah. Tapi dengan siapa Arin akan menikah. Sebagai orang tua, Pak Cokro pasti mengiginkan yang terbaik untuk anaknya. Pak Cokro ingin melihat anaknya hidup bahagia.
"Maafkan ayah nak, bukannya aya menolak permintaanmu. Tapi ayah tidak mengizinkan jika kami menikah dengan laki-laki itu," gumam batin Pak Cokro dalam hati.
Keesokan harinya, Arin terbangun tanpa adanya semangat yang seperti biasanya. Jika biasanya Arin akan membereskan rumah terlebih dahulu, kali ini Arin tidak mau melakukan apa-apa. Hari ini Arin hanya ingin segera pergi bekerja. Bahkan Arin tidak mau menyapa ayahnya karena perselisihan semalam.
"Kamu tidak sarapan dulu nak?" tanya Pak Cokro yang melihat Arin tampak berbeda hari ini. Arin terlihat lebih pemurung.
"Tidak yah, Arin sudah kesiangan. Nanti sarapan di toko saja," jawab Arin seperlunya.
"Apa Arin marah kepadaku hanya karena semalam. Ah sudahlah yang terpenting aku tidak menyetujui hubungan mereka, karena ini semua untuk kebaikan Arin. Yang terpenting Arin bisa hidup bahagia, " gumam Pak Cokro bermonolog.
Sesampainya di tempat kerja, Arin tidak bisa berkonsentrasi. Pikiran Arin selalu teringat akan kata-kata ayahnya. Arin merasa bingung harus berbuat apa, sepertinya Arin hanya mengatakan ini semua pada bi Marni.
Setelah pekerjaannya selesai Arin segera mengeluarkan benda pipihnya dari dalam tas. Ia mulai mencari nama bi Marni di ponselnya. Tak berapa lama akhirnya panggilan itu tersambung, hanya saja bi Marni telat mengangkat telpon itu.
"Iya rin gimana?" ujar bi Marni dari seberang sana.
"Maaf tadi bibi sedang ada pekerjaan makanya jawabnya lama," tambah bi Marni lagi.
"Iya bi tidak apa-apa. Oiya bi, aku sudah membicarakan semuanya pada ayah bi. Tapi ayah menolak, ayah tidak merestui hubungan kami bi," lirih Arin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Apa? Tapi kenapa ayahmu seperti itu?" tanya Bi Marni yang merasa terkejut dengan pernyataan ayahnya. Sebagai orang tua sudah seharusnya kita memberikan restu jika anak kita akan menikah.