
After the examination was completed, Sintia was given ointments and antibiotics for pain relief.
"Thank you doctor" said Reza and Sintia who immediately rushed out of the doctor's room.
"Together sir, ma'am," said the doctor with a wry smile.
Reza and Sintia immediately walked out of the room. Sintia walked very carefully because her legs still hurt. Reza is behind him.
"Let me help Sintia" said Reza, who could not bear to see Sintia in pain.
"No need, I can walk alone," said Sintia who instead accelerated her steps in front of Reza.
Reza just shook his head at Sintia's behavior. Before long they finally arrived at the car park. Deftly Reza immediately opened the door for Sintia. Sintia also immediately entered the car because the day is overcast, it may soon rain.
Reza sat at the wheel, while Sintia sat right beside him. There was no special chat between them, Reza only occasionally looked at Sintia and turned his eyes forward.
While Sintia only looked at the scenery from inside the car. It did not feel an hour later they finally arrived at Sintia's house. Reza immediately rushed down from the car to open the door for Sintia.
"Thank you" Sintia said shortly after getting out of the car.
"Sama-sama Sintia," said Reza who delivered Sintia to the terrace of his house.
Disaat yang bersamaan terdengar suara petir yang menggelegar. Sintia spontan berteriak dan segera memeluk Reza.
"Maaf aku harus segera pulang," pamit Reza yang merasa salah tingkah karena Sintia tiba-tiba memeluknya.
Namun saat Reza akan berjalan menuju mobilnya tiba-tiba saja hujan turun begitu derasnya. Sehingga Reza pun kini terjebak di teras Sintia.
"Astaga hujannya besar sekali," ujar Reza.
"Ya sudah aku buatkan kopi dulu sambil menunggu hujan reda," tukas Sintia yang segera bergegas menuju dapur.
"Tidak Sintia, tidak perlu repot-repot," timpal Reza.
Akan tetapi Sintia terus saja melangkahkan kakinya menuju dapur tanpa menghiraukan ucapan Reza. Meski masih terasa sakit akan tetapi Sintia tidak terlalu menghiraukannya. Sintia segera memasak air dan segera menghidangkan kopi dan gula ke dalam gelas.
Tak berapa lama akhirnya Sintia beres membuat kopi. Dengan sangat hati-hati Sintia membawa kopinya perlahan.
"Ini Za kopinya," ujar Sintia yang segera meletakan kopinya diatas meja.
"Terima kasih Sintia, " tukas Reza yang segera menyeruput kopinya sedikit demi sedikit karena merasa kedinginan.
Sudah hampir satu jam Reza berada di teras Sintia. Bukan nya berhenti, akan tetapi hujan itu malah semakin deras. Reza pun semakin kedinginan karena ia tidak memakai jaket. Reza pun melipatkan kedua tangannya.
Tak berapa lama, Reza mengeluarkan roko dari saku celananya. Ia pun segera membakar dan menyesapnya karena merasa kedinginan. Reza semakin kedinginan karena cuaca yang tak menentu.
"Hujannnya semakin deras kamu tidur di sini saja," ucap Sintia.
"Apa? Tidak mungkin," lirih Reza.
Ditengah-tengah perbincangan mereka petir semakin mengeraskan suaranya. Sintia yang mendengar itu spontan memeluk Reza karena merasa ketakutan. Sementara Zidan yang pada saat itu tidak ada dirumahnya, menginap selama beberapa hari bersama ayahnya.
"Apa kamu takut Sintia?" tanya Reza.
Hujan itu semakin besar dan kini dibarengi dengan petir dan angin yang begitu kencang.
"Cepat Sintia masuk," pekik Reza.
"Kamu juga Za, bahaya ada diluar," teriak Sintia yang malah menggandeng tangan Reza masuk ke dalam rumah. Hari semakin malam namun hujan masih tidak mau berhenti.
"Kamu tidur disini saja Za, diluar bahaya kalau kamu tetap nekat pulang. Anginnya begitu kencang," ujar Sintia yang mengkhawatirkan keadaan Reza.
"Ya sudah kalau begitu, aku akan disini sampai semuanya kembali normal. Kamu tidur saja ke kamar, aku akan tidur disini," ucap Reza.
"Benarkah?" tanya Sintia tidak percaya.
"Tentu Sintia."
Mendengar hal itu membuat Sintia merasa lega karena ia tidak akan bisa memejamkan matanya jika mendengar petir. Akhirnya Sintia segera bergegas ke dalam kamarnya. Sedangkan Reza tidur di ruang tamu.
Namun saat akan memejamkan mata, tiba-tiba suara petir itu kembali bergemuruh. Sintia yang mendengar hal itupun spontan berlari menuju ruang tamu. Reza yang baru saja akan memejamkan matapun terbangun karena Sintia berada didengarnya.
"Aku takut Za, aku tidak bisa tidur," lirih Sintia yang merasa ketakutan. Sedari kecil Sintia memang selalu merasa ketakutan jika ada petir.
"Sintia? Kamu disini?" tanya Reza yang malah membelalakan mata karena terkejut dengan kedatangan Sintia.
"Aku takut. Za," lirih Sintia yang kini menangis dipelukan Reza.
"Sudah, sudah ada aku disini. Aku akan menjagamu, kamu tidur dikamar ya aku akan mengantarmu," ujar Reza sembari masih memeluk Sintia. Tanpa berkata apa-apa Sintia mau diantar oleh Reza.
Sebelum bergegas pergi meninggalkan Sintia, Reza pun memastikan Sintia tertidur lebih dulu. Beberapa saat kemudian akhirnya Sintia memejamkan matanya. Namun pada saat Reza akan pergi meninggalkan Sintia. Tiba-tiba saja tangan Reza ditarik oleh Sintia.
"Jangan tinggalkan aku, aku takut," lirih Sintia sambil memegangi tangan Reza.
Melihat Sintia yang ketakutan, Reza pun merasa tidak tega. Akhirnya Reza kini duduk di dekat Sintia. Tak berapa lama suara petir itu kembali bergelegar. Sintia pun spontan memeluk Reza yang berada di dekatnya.
Kali ini Reza yang mendapatkan pelukan Sintia membalas pelukannya karena Reza merasa begitu kedinginan. Namun pada saat Sintia memeluknya ada kehangatan yang Reza rasakan. Untuk beberapa saat mereka berpelukan.
Kini Reza mendorong sedikit Sintia agar berada pada posisi tertidur. Reza pun kini menindih Sintia dan mencumbu lehernya yang jenjang. Cumbuan Reza semakin liar karena suasana yang semakin mendukung.
Sementara Sintia semakin menggeliat atas setiap tindakan yang Reza lakukan. Perlahan tapi pasti Reza mulai membuka kancing baju tidur Sintia. Setelah terbuka aksi Reza semakin liar. Kini cumbuan itu berlanjut menuju benda kembar milik Sintia.
"Ayo Za, mainkanlah. Sudah lama aku tidak mendapatkan ini semua," ujar Sintia yang semakin bergairah.
Mendapat lampu hijau dari Sintia membuat Reza semakin menaikan level permainannya. Reza mulai meraba dan meremas benda kenyal itu. Sementara Sintia yang merasakan itu semakin terbawa suasana.
Reza merasa sudah tidak tahan lagi karena cuaca semakin terasa dingin. Reza pun segera melucuti celana yang ia kenakan. Sedangkan Sintia sudah berada pada posisinya yang pas. Hal itu membuat Reza semakin tidak bisa menahan hasratnya.
"Boleh aku melakukannya Sintia?" tanya Reza sebelum ia benar-benar mengakhiri permainannya.
"Tentu Za, sudah lama aku tidak mendapatkan itu," ucap Sintia.
Mendengar hal itu membuat Reza segera meluncurkan senjatanya menuju gerbang kenikmatan milik Sintia. Reza pun beberapa kali menghentakan pinggulnya.
"Aahh za," ujar Sintia yang baru sekarang mendapatkan hal itu lagi setelah sekian lama berpuasa.