
Finished finishing his meal Arin and Reza immediately rushed home. Arin felt that his father must have been waiting for his arrival because he came home late. Arin never came home late.
Reza delivered Arin at a high speed. Not long after they finally arrived at Arin's house, while Mr. Cokro had been waiting for Arin's arrival since it was home-exploited. Mr. Cokro who has been home since felt anxious why his son had not arrived home. Mr. Cokro is afraid of things that are not desirable to his son.
"Why hasn't Arin come home yet? Usually at this hour he is at home," murmured inner Mr. Cokro.
"Let me call his cell phone" said Mr. Cokro again who pulled out his flat object from his pants pocket.
But when Mr. Cokro tried to contact Arin's phone turned out his number was not active. After eating and cleaning himself, Mr. Cokro waited for Arin's arrival in the house. After a while, a motorbike came home.
"Where have you been? Why are you coming home late?" ask Mr. Cokro when Arin has just arrived.
"Sorry sir, we just ate first" replied Arin.
"So dad tried the phone is also inactive," added Mr. Cokro.
"I'm sorry, Arin's cell phone battery ran out" replied Arin.
"I'm sorry om, I was the one who made Arin eat first" said Reza who felt guilty for taking Arin.
"Yes there quickly go home, it is not good not a double muhrim," said Mr. Cokro with a sharp eye.
"Yes sir, excuse me" said Reza politely, who immediately rushed out of Arin's courtyard.
"You should have said first if you want to go or if it comes late," said Mr. Cokro who just entered the house.
"Iya pak maaf, Arin tidak akan mengulangi hal ini lagi," ujar Arin.
"Ya sudah sana cepet istrirahat sudah malam," titah Pak Cokro lagi.
"Baik pak," jawab Arin yang segera melangkahkan kakinya ke dalam kamar.
"Tunggu dulu Arin," panggil Pak Cokro.
"Ada apa yah?" tanya Arin yang baru saja akan melangkahkan kakinya namun tidak jadi.
"Ayah hampir lupa, besok ayah harus kerja ke luar kota untuk beberapa minggu. Kamu tidak apa-apa kan jika ayah tinggal sendiri," ujar Pak Cokro yang hampir saja lupa memberitahukan tentang kepergiannya.
"Oh iya yah, aku tidak apa-apa," jawab Arin.
"Ya sudah kalau begitu istirahatlah," titah Pak Cokro.
"Baik yah," jawab Arin menganggukan kepalanya dan segera bergegas ke kamarnya. Arin pun segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera pergi tidur.
Sementara ditempat lain Reza baru saja tiba dirumahnya. Reza segera memarkirkan motornya ke dalam garasi. Namun saat ia akan masuk ke dalam rumah, didalam begitu sepi. Itu artinya Sintia tidak akan pulang malam ini.
"Pergi kemana Sintia malam-malam begini," gumam batin Reza. Meski selalu saja bertengkar, tapi Reza sangat mengkhawatirkan keadaan Sintia. Ia merasa takut jika terjadi sesuatu kepada Sintia. Reza segera beristirahat ke dalam kamar. Reza membaringkan tubuhnya diatas ranjang king size miliknya.
Namun saat ia akan tidur, Reza justru tidak bisa memejamkan matanya. Reza teringat pada Sintia yang entah berada dimana. Lagi-lagi Reza memikirkan pernikahannya bersama Sintia. Reza masih merasa bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Beberapa saat kemudian akhirnya Reza terlelap.
Keesokan harinya, ayah Arin sedang bersiap pergi. Pak Cokro pergi lantaran ada pekerjaan yang harus kerjakan diluar kota. Hal ini bukan merupakan kali pertama bagi Pak Cokro bekerja ke luar kota. Arin sudah terbiasa sendiri saat ayahnya harus bekerja ke tampat yang jauh.
"Kalau begitu ayah pamit nak, hati-hati dirumah yah," pamit Pak Cokro sesaat sebelum meninggalkan rumah.
Meski berat harus meninggalkan anaknya tapi Pak Cokro harus pergi juga. Pak Cokro yang hanya pegawai kecil yang harus mematuhi perintah atasannya. Meski gaji tidak seberapa tapi Pak Cokro harus tetap bekerja demi menyambung hidup.
Hari ini merupakan hari minggu, Arin tidak berangkat bekerja seperti biasanya karena ia sedang libur. Terkadang Arin merasa bosan dengan kesendiriannya. Arin terkadang merindukan ibunya, jika saja ibunya masih ada mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Tanpa terasa mata Arin pun mulai berkaca-kaca mengingat akan kenangan indah yang pernah ia lewati bersama ibunya.
Akan tetapi Arin segera beristighfar, untuk memohon ampun kepada Sang Kholiq. Tidak seharusnya Arin berkata demikian sebab semua yang terjadi kepada setiap manusia merupakan takdir dari-Nya. Sebagai seorang hamba yang baik, tidak seharusnya Arin berkata-kata seperti itu.
Meski ada ayahnya yang kini tinggal bersamanya, tapi kasih sayang seorang ibu dengan kasih sayang seorang ayah sangatlah jauh berbeda. Seorang ayah cenderung cuek dan acuh pada Arin. Meski tidak sepenuhnya cuek, Arin selalu merasa ada jarak yang terbentang diantara mereka.
Ditempat lain saat Reza terbangun, entah mengapa ia tiba-tiba teringat pada Arin. Reza pun akhirnya berencana untuk mengajak Arin pergi bersamanya sebab hari ini merupakan hari libur. Arin pasti mau jika diajak jalan-jalan. Reza pun mengambil benda pipihnya yang berada diatas nakas dan segera mengirimkan pesan singkat.
Ditengah lamunannya tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponselnya.
Ting... ting...
'Apa kamu ada acara hari ini Rin? Bagaimana kalau kita jalan.'
Sebuah pesan masuk dari Reza sontak membuat Arin terkejut.
"Kak Reza?" gumamnya dalam hati.
'Sebenarnya aku libur sih kak, tapi kita mau kemana?'
Tanya Arin yang segera membalas pesan singkat dari Reza.
'Kemana aja yang penting kita jalan-jalan, kakak bosan dirumah saja.'
'Oke kalau begitu, Arin siap-siap dulu.'
'Siip nanti kakak jemput.'
Merasa bosan berada dirumah, akhirnya Arin pun mengiyakan ajakan Reza. Meski ini baru pertama tapi Arin selalu merasa khawatir, apakah yang dilakukannya ini benar atau tidak. Tapi Arin selalu merasa tenang jika berada didekat Reza.
Tak berapa lama akhirnya Reza datang menjemput Arin.
Tidid..
Terdengar suara klakson motor yang menandakan kedatangan Reza.
"Kamu sudah siap Rin?" tanya Reza.
"Sudah kak," jawab Arin yang segera naik ke atas motor Reza.
Setelah Arin naik Reza pun segera melajukan kendaraannya.
"Kita mau kemana Rin?" tanya Reza sambil mengendarai motornya.
"Mmh terserah kakak aja," jawab Arin yang merasa bingung sebab ia tidak tahu tempat-tempat yang menyenangkan.
Reza pun akhirnya mengajak makan Arin disalah satu tempat yang sedang hits saat itu. Reza merasa senang karena akhirnya Arin mau pergi bersamanya. Setibanya ditempat itu Arin pun merasa senang sebab tempat itu begitu indah dan ramai oleh para penggunjung.
Tanpa membuang waktu mereka langsung memesan makanan dan minuman. Namun saat sedang menunggu makanan, Reza seperti melihat seseorang.