RUINED MY HOPE

RUINED MY HOPE
14. Proof of Love


A few months passed, it was not felt that the marriage of Sintia and Panji had been running for almost 7 months. Reza who always watched Sintia from a distance was happy if she had now lived happily. Reza was relieved, and he thought that he would not have to watch her anymore because Sintia had found her happiness.


Now that Reza won't be watching Sintia anymore, maybe now he will focus on himself. Early in the morning Reza was getting ready to go to the office. As usual Reza went to his office on his motorcycle. An hour later, Reza arrived at the office.


Although Reza is the owner of the company, but he never wanted to be seen as the owner. Reza always wanted to look simple. He does not want to show his true self. Reza entrusts others to hold onto his company, which is none other than his uncle Sintia.


Before he died, Mr. Eko had testified to Reza if his company he entrusted to Reza with his sister. Although he objected, Reza did not reject him. He only asked Sintia's uncle to take care of everything.


"Good morning Reza," said Mr. Bambang who is Sintia's uncle.


"Good morning, too, uncle" replied Reza.


"What about you now?" ask Uncle Bambang who already knows about the divorce of Reza and Sintia. From the beginning, Mr. Bambang had known that Sintia did not love Reza.


"I'm still my own uncle" replied Reza.


"Why not get married again soon," said Mr. Bambang again.


"Ah I am not ready sir, after all it is not easy to find a woman who really suits us" said Reza.


"What you said, son. Finding a life partner is not as easy as turning the palm of the hand," said Mr. Bambang.


"Do you have to copy this company, son," said Mr. Bambang again.


"Ah tidak pak, aku tidak bisa jika harus mengurus ini semua sendiri. Lebih baik bapa saja yang sudah ahli dalam menjalankan perusahaan ini," jawab Reza yang merasa tidak sanggup jika harus mengurus perusahaannya sendirian.


"Tapi kamu sangat pantas berada di posisi ini nak," timpal Pak Bambang.


"Saya sangat percaya dengan bapak. Saya hanya ingin bapak saja yang mengatur semuanya," ucap Reza lagi.


"Baiklah jika memang kamu percaya dengan bapak," tukas Pak Bambang.


"Kalau begitu saya akan melanjutkan pekerjaan saya pak," pamit Reza yang segera bergegas menuju ruang kerjanya.


"Baiklah nak, silahkan," jawab Pak Bambang.


Reza pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Dengan cekatan ia segera melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai. Tak terasa hampir seharian penuh Reza bekerja. Reza pun tiba-tiba teringat pada Arin sebab sudah beberapa hari ini mereka tidak bertemu.


Ditempat berbeda Arin sedang menunggu kendaraan umum untuk pulang. Beruntung Reza datang tepat waktu.


"Rin!" panggil Reza yang melintas dihadapan Arin.


"Kak Reza? Sedang apa disini?" tanya Arin yang tampak terkejut dengan kedatangan Arin.


"Kakak sengaja jemput kamu," jawab Reza.


"Oh, memangnya ada apa kak?" tanya Arin yang menautkan kedua halisnya.


"Tidak ada apa-apa sih, kakak cuma kangen aja sama kamu," jawab Reza yang to the point.


"Eh si kakak, emang benaran?" tanya Arin yang masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Iya bener, masa kakak bohong," ujar Reza lagi.


Arin pun seketika terdiam mendengar pernyataan Reza. Antara percaya dan tidak percaya. Tapi sebenarnya Arin juga merasa senang karena ia juga merasakan hal yang sama.


"Ada apa Rin?" tanya Reza yang tiba-tiba melihat Arin terdiam.


"Ga apa-apa kak," jawab Arin.


"Sebenernya Arin juga merasakan hal yang sama. Entah mengapa Arin merasa nyaman berada di dekat kakak," ujar Arin yang mencoba mengungkapkan perasaannya.


"Apa? Jadi beneran?" tanya Reza memastikan.


"Iya kak," jawab Arin dengan pipi yang mulai memerah.


Sebenarnya hubungan mereka sejak dulu sudah sangat dekat. Mereka merasakan kenyamanan satu sama lain. Arin merasa senang berada didekat Reza sebab ia sudah menganggap Reza sebagai kakaknya sendiri. Bahkan Arin sangat senang karena Reza begitu memperhatikannya.


Begitupun dengan Reza yang merasa nyaman berada didekat Arin sebab setelah pertengkaran bersama istrinya, hanya Arin lah yang bisa membuatnya tenang. Hanya Arin lah yang mengerti akan perasaannya. Awalnya Reza menganggap Arin hanya sebatas teman curhat saja.


Namun seiring berjalannya waktu perasaan itu berubah dan kini perasaan itu semakin dalam. Arin pun merasa jika sebenarnya ia tidak pernah bermaksud mendekati Reza. Semua mengalir begitu saja. Arin pun sebenarnya tidak ingin memiliki hubungan yang lebih dengan Reza sebab ia tahu jika Reza telah memiliki seorang istri. Namun karena situasi dan kondisi yang akhirnya selalu memberikan kesempatan bagi mereka berdua.


"Apa yang sebenarnya aku lakukan? Mengapa aku mengatakan semua itu," gumam batin Arin yang menyesali perkataannya.


"Ada apa Arin?" tanya Reza.


"Tidak kak, tidak apa-apa," jawab Arin lirih.


"Tapi kakak lihat kamu sedang memikirkan sesuatu," tebak Reza yang melihat ada sesuatu yang Arin pikirkan.


"Sebenarnya Arin merasa tidak enak mengatakan semua itu," ujar Arin lagi.


"Kenapa harus tidak enak segala rin? Kakak saat ini juga sudah sendiri," tukas Reza yang memberikan pengertian pada Arin.


"Eh iya ya, aku sampai lupa jika Ka Reza sudah berpisah dengan kak Sintia," kekeh Arin.


"Iya ih, kamu gimana sih," ujar Reza yang  merasa gemas dengan Arin.


Akhirnya mereka pun meresmikan hubungan mereka berdua. Arin yang awalnya malu-malu kini mulai terbuka dengan perasaannya. Begitupun dengan Reza yang tak sungkan menunjukan perasaannya. Beberapa hari pun berlalu, hubungan diantara mereka pun semakin dekat.


"Apa kamu benar-benar mencintai kakak Rin?" tanya Reza.


"Iya kak, memangnya kenapa?" tanya Arin yang menakutkan kedua halisnya sebab Arin merasa terkejut tiba-tiba Reza menanyakan hal itu.


"Apa kakak bisa lihat buktinya?" tanya Reza.


"Bukti? Maksudnya bukti apa?" tanya Arin lagi.


"Bukti kalau kamu memang benar-benar mencintai kakak," tukas Reza.


"Tapi emang harus pake bukti ya kak?" tanya Arin polos.


"Iya, kalau bisa pake bukti," ujar Reza lagi.


Arin pun memikirkan hal itu dalam-dalam. Arin sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Reza. Arin mencerna setiap ucapan Reza, tapi ia benar-benar tidak mengerti dengan arah pembicaraan Reza. Begitulah Arin memang sangat polos.


"Arin, kamu kenapa diam?" tanya kak Reza.


"Tidak kak, aku tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan kata-kata kakak saja," jawab Arin.


"Oh soal bukti cinta, apa kamu mau membuktikan cinta kamu rin?" tanya Reza.


"Emang kakak sendiri apa buktinya benar-benar mencintai Arin?" tanya Arin.


"Jadi kamu mau bukti?" tanya Reza.