RUINED MY HOPE

RUINED MY HOPE
1. Life of Arin


After a few months of being near Reza made Arin's life more meaningful. For Arin, Reza's presence is a breath of fresh air, because Reza always makes him smile. Even Reza always gave his attention to Arin who always felt a lack of affection from his father.


Since her mother died, Arin has lived alone with her father. Arin doesn't even have a sister or an older brother next to her. Although there is a family that comes from his mother and father, but Arin never felt he had a family. Maybe it was because the Arin family was far enough out of town that it made them not so close.


That morning as usual Arin was preparing to go to school. Arin now sits in the 12th grade of High School (SMA). Although Arin almost dropped out of school, but thank God finally Arin can go to school too even though only in a fairly simple school.


During his 3 years at High School, Arin finally graduated with a fairly satisfactory grade.  Although sometimes Arin will almost drop out of school, but eventually he can finish school.


Still remember in Arin's mind if his father used to tell Arin not to continue his school.


The Flash back On


"What if you don't have to continue Rin's school" said Mr. Cokro Purnama, sipping a glass of black coffee is still hot.


"What yeah? But I really want to go to school well, even I want to continue school to college," added Arin again who was eating breakfast.


"But you know for yourself that your father is just a laborer whose job is not fixed" Cokro said again.


Hearing her father's words made Arin speechless. Arin felt that what her father said was true as well. Since the first father does not have a permanent job, so to continue school alone feels impossible.


"What's up Rin? How silent?" asked the father who saw him suddenly fell silent after talking a lot.


"It's okay well, Arin understands the condition of the father. But Arin also still hopes if later after graduating from First High School (SMP), Arin can continue school," said Arin who suddenly felt pessimistic. Whereas previously Arin always felt optimistic to be able to continue school to a higher level.


Meski ayahnya tidak sepenuhnya mendukung akan keinginan Arin untuk bersekolah, akan tetapi Arin selalu bersemangat dalam menjalani hari-harinya. Arin selalu berusaha untuk belajar agar ia mendapatkan nilai-nilai yang bagus.


Arin beruntung karena disekolahnya selalu mendapatkan bantuan. Jika tidak mungkin ia tidak akan bisa bersekolah. Untuk sehari-hari Arin tidak memerlukan banyak uang jajan, yang terpenting ada ongkos untuk naik kendaraan umum sudah cukup bagi Arin.


Beberapa bulan kemudian akhirnya hari kelulusan itu tiba. Setelah menjalankan Ujian Akhir  Sekolah (UAS) dan Ujian Nasional (UN), akhirnya hari kelulusan itu tiba. Disekolah diadakan sebuah perpisahan yang cukup sederhana. Perpisahan yang dihadiri oleh siswa saja dan para guru. Perpisahan yang benar-benar sederhana namun cukup berkesan bagi Arin.


Setelah semua rangkaian acara selesai, Arin dan teman-temannya berkumpul disalah satu rumah mereka yang bernama Hana. Sejak beberapa hari yang lalu ibunya Hana mengundang teman-teman terdekat Hana untuk makan-makan. Hanya ada beberapa orang saja yang turut serta, mereka adalah Hana, Winda, Santi dan juga Nisa. Karena memang hanya Arin dan teman-teman yang lain yang dekat dengan Hana.


Mereka pun segera bergegas menuju rumah Hana dengan menaiki kendaraan umum.  Setengah jam kemudian akhirnya mereka tiba dirumah Hana.


"Assalamualaikum," ujar Hana saat memasuki rumahnya.


"Waalikumsalam warrohmatulohi wabarokatuh," jawab Bu Widia yang merupakan ibu Hana.


"Kabar baik tante," jawab mereka kompak yang menyalami ibu Widia satu persatu.


"Ajak teman-temanmu ke atas ya Han, terus ajak juga mereka makan yang sudah ibu sediakan didapur," ujar Bu Widia.


"Baik bu," jawab Hana yang langsung mengerahkan teman-temannya ke dapur dan membawa makanan mereka dilantai 2 kamar Hana. Setelah makanan meraka habis, mereka pun berbincang-bincang.


"Yeah, akhirnya kita lulus juga," ujar Hana yang merasa senang setelah kelulusan itu.


"Aku juga senang, akhirnya kita akan memulai hidup baru. Sekolah ke tempat yang baru, dengan suasana yang baru pula," timpal Arin.


"Tapi aku sedih, nanti kita bakalan jarang ketemu," celetuk Winda.


"Tapi kita kan bisa janjian buat ketemu," ucap Santi yang memberikan saran.


"Bener juga kamu san," timpal Hana lagi.


Tak terasa karena begitu banyak hal yang dibicarakan akhirnya sore pun mulai menjelang. Mereka akhirnya membubarkan diri masing-masing.


Beberapa hari kemudian Arin mencoba mendaftar ke sebuah SMA yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Namun saat akan mendaftar lagi-lagi Arin harus kecewa karena tidak memiliki cukup uang untuk pegangan. Sang ayah pun berbicara lagi jika sebaiknya Arin bekerja saja. Akan tetapi untu anak seusia Arin akan bekerja apa hanya dengan bermodalkan ijazah SMP.


Arin pun kembali merasa pesimis. Arin takut jika ia benar-benar tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Padahal Arin sangat ingin bersekolah bahkan hingga ke perguruan tinggi. Untuk kali kedua Arin mencoba mendaftar ke sekolah negeri, mungkin dengan bersekolah di SMA negeri akan meringankan biaya Arin. Namun lagi-lagi Arin harus menelan kekecewaan karena kuota disekolah itu sudah penuh.


Arin kembali bersedih, kali ini ia benar-benar putus asa karena ia benar-benar tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Akan tetapi diluar dugaan, tiba-tiba ada yang menghubungi Arin jika ia sudah dititipkan disekolah SMA swasta dengan biaya yang sudah di bebaskan. Dan Arin diminta untuk datang ke sekolah itu hari senin yang akan datang.


Alhamdulillah sungguh rezeki yang tidak disangka-sangka akhirnya Arin bisa bersekolah disalah satu SMA swasta yang cukup sederhana. Setelah datang ke sekokah dan menemui kepala sekolah akhirnya Arin diperbolehkan sekolah dan biayanya pun dibebaskan.


Sungguh semua itu diluar dugaan, sebab Arin benar-benar sudah putus asa jika ia bisa melanjutkan sekolah. Meski dengan kondisi keuangan yang kadang ada kadang tidak, hal itu tidak pernah membuat Arin patah semangat. Kekurangannya itu justru dijadikan Arin sebagai kelebihan untuk tetap bisa bersemangat dalam pembelajaran.


Tak terasa 3 tahun kemudian akhirnya Arin lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Setelah kelulusan ini, Arin juga masih berharap jika ia akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Setidaknya dengan modal ijazah SMA Arin bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.


Flash back Off


Beberapa minggu setelah lulus dari sekolah Arin pun segera membuat beberapa lamaran pekerjaan. Mulai dari toko baju, toko retail bahkan restoran-restoran ternama pun tidak lupa ia lewatkan. Arin berharap dengan bermodalkan ijazah SMA akan mendapatkan sebuah pekerjaan yang lebih baik.