
Where are you going after this?" reza asked again after seeing that Sintia's food had run out.
"Come on, I also feel confused about where to go" said Sintia.
"Actually what happened to you? Why didn't your husband deliver you?" ask Reza again.
Hearing Reza's question makes Sintia confused to tell a story or not. Sintia was embarrassed to have to tell her ex-husband everything. Moreover, Sintia had always been bad for Reza. That's why Sintia felt sad if she had to ask Reza for help.
"Sintia," called Reza who had seen Sintia like she was daydreaming.
"Yes, sorry I didn't listen to you. Why?" asked Sintia again who looked confused because she was thinking about something.
"I asked where you guys were actually going? Why didn't your husband take you away, "see Reza who was curious.
"Actually.." replied Sintia who was hesitant to tell her the truth.
"What is Sintia? Let's just say, maybe I can help you" Reza said.
"I was fighting with Panji, I caught him with another woman," said Sintia who was feeling sad and started to tear up.
"What's? She did that to you? Damn you!" exclaiming Reza who was annoyed to hear what Panji did.
"Yes Za, I never thought he would do that to me. So at that time," said Sintia who began to tell the true events. Now Sintia explained a glimpse of the story about him.
The Flashback
Hari itu merupakan hari ulang tahun pernikahan mereka yang keempat. Tidak seperti tahun-tahun yang sebelumnya, suaminya Panji selalu memberikan kejutan-kejutan romantis dan hadiah untuk Sintia. Tapi diulang tahun pernikahannya yang saat ini terasa berbeda.
Entah apa yang terjadi pada Panji. Sejak pagi dia tidak bersikap seperti biasanya. Apa mungkin dia juga sudah lupa jika hari ini merupakan hari yang spesial.
"Apa kamu ingat hari ini hari apa mas?" tanya Sintia sambil merapikan kasurnya.
"Hari ini bukannya hari senin ya?" jawab Panji yang tidak mengingatnya jika hari ini merupakan hari ulang tahun pernikahan mereka.
"Jadi memang mas Panji lupa dengan hari yang spesial ini. Biasanya dia yang pertama mengingatnya, tapi kenapa hari ini dia tidak ingat," gumam batin Sintia.
"Kenapa diam? Benarkan kan hari ini hari senin," tanya Panji memastikan.
"Iya mas benar," jawab Sintia singkat. Meski ia kecewa tapi Sintia berusaha berfikiran positif. Mungkin saja suaminya sedang banyak pekerjaan sehingga ia melupakan hari yang spesial ini. Setelah menikah dengan Panji membuat Sintia berubah. Sintia yang sekarang bukanlah Sintia yang dulu.
Kini Sintia begitu dewasa dan lebih sabar. Hal itu terjadi setelah ia melahirkan seorang anak. Semenjak ia memiliki seorang anak, Sintia baru merasakan jika menjadi seorang ibu itu tidaklah mudah. Banyak pelajaran yang ia alami selama menjadi seorang ibu.
Termasuk tentang perilakunya terhadap Panji yang kini menjadi suaminya. Sintia kini menjadi wanita yang lebih sabar dan terlihat tenang. Jika sebelumnya Sintia akan selalu marah-marah seperti kepada suaminya yang dahulu, kini Sintia terlihat lebih santai.
"Ya sudah aku akan berangkat kerja dulu," pamit Panji.
"Iya mas, hati-hati dijalan," jawab Sintia yang segera menyalami dan mencium punggung tangan kanan suaminya.
"Dadah ayah," ujar Zidan yang baru saja keluar dari kamarnya.
Sintia hanya memperhatikan kepergian suaminya yang telah berlalu diambang pintu.
"Kenapa mah?" tanya Zidan yang melihat ibunya terdiam.
"Tidak sayang, mamah tidak apa-apa," jawab Sintia yang segera mensejajarkan dirinya dengan putranya.
"Kamu mandi dulu sana, setelah mandi kita makan ya!" seru Sintia. Di usianya yang masih sangat kecil, Zidan memang sudah bisa melakukan semuanya sendiri.
"Apa aku harus memberikan surprise untuk suamiku," gumam batin Sintia yang tiba-tiba memikirkan hal itu. Ya Sintia berencana akan datang ke kantor suaminya setelah ia mengantar Reza sekolah nanti.
Sintia akan membawa kue dan buket bunga.
"Ya mungkin saja mas Panji lupa, aku akan memberikan kejutan untuk kamu mas," ujar Sintia yang tersenyum simpul.
Setelah anaknya selesai mandi, ia pun segera bersiap untuk mengantarkan Zidan ke sekolah. Zidan saat ini mengikuti sekolah Paud atau sakola pra TK. Sintia sengaja memasukan Zidan ke sekolah itu agar ia bisa belajar bersosialisasi bersama teman sebayanya.
Selesai mandi dan makan, kini Sintia mengantar anaknya ke sekolah. Sesuai dengan rencananya tadi, selepas mengantarkan sekolah anaknya. Sintia bergegas mencari kue dan buket bunga. Terdengar aneh memang bagi wanita yang memberikan kejutan untuk suaminya dengan membawa kue dan buket bunga. Namun apa salahnya jika wanita yang melakukan hal itu.
"Dadah mamah," pamit Zidan yang melambaikan tangannya dibalik gerbang.
"Dadah sayang, belajar yang baik ya!" ujar Sintia dengan tersenyum simpul. Ia merasa bahagia karena anaknya kini sudah masuk sekolah.
Semua ini bukan tentang gengsi atau siapa yang pertama kali memberikan kejutan. Tapi semua ini tentang usaha untuk membuat rumah tangga mereka menjadi semakin kuat. Setelah mendapatkan barang yang dicarinya, Sintia pun segera bergegas pergi ke kantor suaminya tanpa memberikan kabar terlebih dahulu.
Satu jam kemudian akhirnya Sintia tiba dikantor suaminya. Ia pun segera menuju ruangan suaminya dan membawa barang bawaannya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Sintia segera masuk ke dalam ruangannya, dan saat ia masuk ternyata dia memergoki suaminya yang sedang bermesraan bersama wanita lain. Wanita yang kini menjadi sekretarisnya dikantor.
Brak..
"Mas, apa yang kamu lakukan?" lirih Sintia yang tiba-tiba mematung serta mata yang mulai berkaca-kaca dan menjatuhkan barang bawaannya.
"Sintia? Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Panji yang terlihat begitu terkejut melihat kedatangan istrinya yang tiba-tiba.
"Seharusnya aku yang menanyakan hal itu mas, sedang apa kamu bersama wanita ini!" seru Sintia yang mulai meneteskan air matanya.
"Aku bisa jelaskan, Sonia kamu keluar dari ruangan saya!" pekik Panji yang langsung mengusir sekretarisnya setelah mereka ketahuan selingkuh.
Tanpa berkata apa-apa wanita itu segera pergi meninggalkan ruangan Panji.
"Jadi karena ini mas sikap kamu berubah? Jadi karena ini kamu sampai melupakan hari ini, hari ulang tahun pernikahan kita?" lirih Sintia dengan suara yang bergetar.
"Aku bisa jelaskan Sintia, tolong dengarkan penjelsanku," ujar Panji.
"Sudahlah mas, semuanya sudah jelas. Aku tahu sekarang, semua pasti karena wanita itu," timpal Sintia lagi yang segera meninggalkan ruangan Panji.
"Tunggu Sintia, maafkan aku. Aku mohon," tukas Panji yang berlutut dihadapan istrinya.