
After his work was done Arin immediately took out his flat object from inside the bag. He started looking for bi Marni's name on his phone. Before long the call was finally connected, it's just that bi Marni did not pick up the call.
Long enough to wait finally Bi Marni called back.
"How is rin?" bi Marni said across the street.
"Sorry that aunt was doing work so he replied a long time ago," added bi Marni again.
"Yes bi is okay. Oiya bi, I've talked everything over to father bi. But father refused, father did not approve of our relationship bi," said Arin with eyes that began to glaze over.
"What's? But why is your father like that?" asked Bi Marni who was surprised by her father's statement. As parents, we should give our blessing if our children are getting married.
"Father objected because of the status of brother Reza bi," said Arin again.
"Yes let your father stand. Back to Arin, are you sure or are you not married to Reza's son?" ask Bi Marni.
Bi Marni's question seemed to hit. This made Arin feel surprised. Arin didn't want to get married so soon. But Arin just does not want to if Reza leaves and marries someone else.
"Why son?" asked Bi Marni who saw Arin suddenly speechless.
"Eh no bi, Arin is ready. Insha Allah Arin is sure, because brother Reza is so mature in the eyes of Arin. So Arin believes Reza's sister can definitely momong Arin," said Arin again.
"If it is your decision, aunt can't do anything. The important thing is that you are happy" said Bi Marni who tried to calm Arin down.
"You don't have to worry, let aunt and grandmother will prepare your wedding," added Bi Marni again.
"Benaran bi?" tanya Arin tidak percaya.
"Iya bener," jawab Bi Marni meyakinkan.
"Alhamdulillah, makasih banyak bi," ujar Arin.
"Sama-sama rin," jawab Bi Marni.
Setelah pembicaraan itu, Bi Marni dan nenek pun sepakat untuk mempersiapkan pernikahan Arin. Pernikahan mereka mungkin akan dilakukan sekitar satu bulan lagi. Meski sederhana yang penting pernikahan mereka sah dimata hukum dan agama.
Mendengar hal itu membuat Arin merasa senang. Kini Arin bisa bernafas dengan lega. Arin merasa jauh lebih tenang sekarang. Kini tidak ada lagi penghalang, Arin merasa yakin dengan keputusannya. Apalagi kini Bi Marni dan neneknya berada dipihak Arin. Hal itu membuat Arin semakin kuat.
"Maafkan Arin yah. Bukannya Arin membantah, Arin hanya ingin segera menikah," gumam batin Arin yang merasa bersalah.
"Arin hanya ingin bahagia. Mungkin dengan Arin menikah akan mengurangi beban ayah," gumam batin Arin lagi.
Meski Arin merasa begitu, tapi Arin merasa jika ini yang terbaik untuk dirinya. Semua pasti akan baik-baik saja setelah menikah. Hanya saat ini saja, Arin harus bersabar menghadapi ayahnya.nHampir seharian bekerja akhirnya kini tiba waktunya untuk Arin pulang. Rasanya tidak sabar bagi Arin untuk memberitahukan yang sebenarnya.
Saat baru tiba di rumahnya, ayah Arin ternyata sudah pulang.
"Ya, ada apa nak?" tanya Pak Cokro.
"Ada sesuatu yang ingin Arin beritahu," tukas Arin lagi.
"Soal apa itu?" tanya Pak Cokro yang menautkan kedua halisnya.
"Tentang pernikahan Arin yah. Insya Allah rencananya bulan depan Arin akan menikah," jawab Arin.
"Apa? Jadi kamu akan menikah tanpa restu ayah?" tanya Pak Cokro yang tidak percaya dengan keputusan ayahnya.
"Maafkan Arin yah. Arin akan tetap menikah dengan atau tanpa restu dari ayah," lirih Arin yang terpaksa melakukan hal itu. Arin terpaksa melakukan hal ini, karena hanya inilah satu-satunya cara agar ia bisa menikah dengan Reza.
Pak Cokro pun hanya bisa terdiam mendengar keputusan anaknya. Sedangkan Arin bergegas menuju kamarnya setelah memberitahukan segalanya kepada ayahnya.
"Maaf nak bukan ayah tidak mau merestui hubungan kalian. Ayah hanya menginginkan yang terbaik untuk putri ayah," gumam Pak Cokro yang sangat mengkhawatirkan anaknya. Sebenarnya Pak Cokro sangat menyayangi anaknya, hanya saja beliau tidak bisa menunjukan rasa sayangnya kepada anak perempuannya.
Sedangkan menurut Arin, ayahnya selalu bersikap acuh tak acuh dan dingin. Serta kurang memperhatikan anaknya. Dulu sejak Arin masih sekolah, Arin berharap jika ayahnya akan bisa hadir dalam acara perpisahan sekolah Arin. Tapi nyatanya Pak Cokro tidak hadir. Padahal itu hanya permintaan Arin yang sederhana, tapi Pak Cokro tidak bisa memenuhinya.
Didalam kamar Arin menangis. Arin teringat pada ibunya, jika saja ibunya masih ada mungkin Arin tidak akan seperti ini. Jika ibunya masih ada, mungkin Arin akan meminta pendapatnya. Mungkin Arin akan meminta saran bagaimana dengan laki-laki pilihannya. Namun begitulah takdir, kita tidak bisa menyangkalnya.
"Maafkan Arin yah," gumam batin Arin.
Arin juga merasa sangat bersalah pada ayahnya. Tapi Arin tidak memiliki pilihan lagi.
Beberapa hari kemudian akhirnya Arin pun menyiapkan pernikahannya serta menyiapkan berkas-berkas yang harus ia lengkapi. Arin menyiapkan semuanya hanya seorang diri. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat Arin. Selalu ada hikmah yang bisa Arin ambil.
Satu bulan kemudian tibalah hari dimana Arin akan melangsungkan pernikahan. Meski hanya pesta sederhana tapi hal itu sudah cukup bagi Arin. Tidak ada hal yang Arin inginkan selain kelancaran atas pernikahannya. Pernikahan Arin dan Reza hanya mengundang keluarga terdekat saja.
"Selamat kepada kedua mempelai, sekarang kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri. Silahkan suami mencium kening istri dan istri mencium punggung tangan suami," ujar pak penghulu setelah menikahkan mereka berdua.
"Alhamdulillah," ujar beberapa orang serentak mereka merasa senang karena akhirnya Arin sudah menikah.
Tanpa ragu Reza pun segera mencium kening Arin. Begitupun sebaliknya, Arin segera mencium punggung tangan kanan Reza. Setelah itu, mereka pun menyalami sanak keluarga satu persatu. Arin merasa sedih karena di hari yang sangat bahagia ini tidak ada ibu yang menyaksikannya.
"Semoga selalu bahagia nak, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawwadah dan warrohmah," ujar Bi Marni setelah memeluk Arin.
"Terima kasih banyak bi," tukas Arin dengan mata yang berkaca-kaca.
"Selamat nak, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawwadah dan warrohmah," ujar Pak Cokro. Meski awalnya beliau tidak merestui hubungan Arin dan Reza, tapi kini tidak ada pilihan lain bagi Pak Cokro selain merestui hubungan mereka.
"Terima kasih yah, maafkan Arin," jawab Arin dengan mata yang berkaca-kaca.
Ssetelah menyalami bibi dan ayahnya, Arin pun segera menyalami kakek dan neneknya. Tidak lupa Arin mengucapkan banyak terima kasih karena berkat mereka lah semua acara ini bisa terwujud. Tanpa bantuan dari mereka mungkin Arin tidak akan pernah bisa seperti ini.