
Today is the first day for Sintia to work. That means Sintia has to wake up early to clean up the house and prepare breakfast for herself and Zidan. Although heavy and very sleepy but Sintia must do all this.
"Well, why do you have to work?" asked Zidan who saw Sintia from earlier started to get busy.
"You're doing this just for you, baby. If mamah does not work, who else will pay for your school," said Sintia who felt sad by her son's question.
Zidan who heard the answer from his mother instantly fell silent. Zidan felt guilty because he shouldn't have asked like that.
"I'm sorry mah" said Zidan lirih.
"Sorry why, baby? Mamah is fine," replied Sintia who directly aligned herself with Zidan.
"I shouldn't have asked you that question, ma'am," said Zidan.
"It's okay, baby" said Sintia, who smiled.
"Yes now you have breakfast first yes, soon your invitation will come," said Sintia.
"Yes," replied Zidan who immediately ate his food.
While Zidan was eating, Sintia immediately prepared to go to the office. Although not heart but Sintia must do all this. This he did solely for Zidan. Panji as his father never financed his son or even just ask how his condition.
"Your gold even to this day you have never asked our news," muttered Sintia who immediately glazed over.
"Well," cried Zidan who immediately broke the daydream of Sintia.
"Iya sayang, sebentar," jawab Sintia dari dalam kamar.
Beberapa saat kemudian Sintia pun segera keluar dari kamarnya. Sintia kini sudah terlihat begitu rapi. Sementara Zidan sudah bersiap karena jemputan dari sekolahnya sudah tiba. Yang menjadi nilai plus di sekolah Zidan yaitu ada fasilitas antar jemput bagi setiap siswa. Untuk itu Sintia tidak perlu repot harus mengantarkan anaknya dulu ke sekolah.
"Mah, aku pergi sekolah dulu ya, mobilnya sudah datang," pamit Zidan yang menyalami ibunya sebelum berangkat ke sekolah.
"Iya sayang hati-hati ya. Belajar yang baik!" seru Sintia yang mengecup pucuk kepala Zidan sebelum ia berangkat.
"Dadah mamah," ujar Zidan sambil melambaikan tangan dan segera bergegas menuju mobil yang sedang terparkir tak jauh dari rumahnya.
"Dadah sayang," teriak Sintia yang melihat kepergian anaknya sebelum ia benar-benar pergi bekerja. Sintia terus memperhatikan laju mobil itu hingga mobil itu tidak terlihat lagi. Sintia baru pergi setelah mobil itu benar-benar pergi.
"Sudah siang, aku harus segera pergi," ujar Sintia setelah melihat jam yang ada ditangannya.
Sintia pun segera masuk kedalam rumah mengambil tas dan segera mengunci rumahnya. Setelah siap Sintia mengunci rumah dan berjalan sebentar menuju jalan raya. Hanya butuh beberapa menit saja untuk tiba dijalan raya. Sintia menunggu sebuah taksi dihalte agar tidak kepanasan.
Namun saat ia sedang duduk, tiba-tiba saja ada orang yang menghampirinya
"Sintia!" panggil seorang laki-laki itu.
"Mas Panji? Sedang apa kamu disini?" tanya Sintia yang menautkan kedua halisnya.
"Aku ingin berbicara denganmu Sintia," ujar pria itu
"Tapi maaf aku sudah terlambat bekerja," pamit Sintia yang segera memanggil taksi. Sintia pun segera masuk ke dalamnya.
"Untuk apa dia menemuiku?" gumam batin Sintia.
"Sial! Kenapa Sintia harus menghindar, aku hanya ingin meminta maaf," tukas Panji yang hanya bisa menyaksikan kepergian Sintia.
"Syukurlah untung aku bisa menghindarinya. Aku tidak ingin berbicara lagi dengannya," gumam batin Sintia.
Tanpa terasa akhirnya Sintia tiba dikantornya. Sintia berjalan menuju ruangannya begitu tergesa-gesa
"Sintia?" panggil Reza dari arah belakang.
"Iya," jawab Sintia yang dengan spontan kembalikan tubuhnya.
"Kenapa buru-buru seperti itu Sintia? Apa ada masalah?" tanya Reza yang melihat Sintia begitu mengkhawatirkan sesuatu.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya kesiangan. Makanya aku terburu-buru," jawab Sintia.
"Oiya aku lupa, bukankah hari ini hari pertamamu bekerja,"ujar Reza.
"Syukurlah dia percaya," gumam batin Sintia yang melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.
Setelah menjawab pertanyaan Reza, Sintia segera melanjutkan langkahnya. Sintia bergegas pergi meninggalkan Reza menuju ruangannya.
Di dalam ruangannya Sintia segera duduk dan segera minum air putih yang ada diatas mejanya. Sintia merasa lega karena akhirnya ia bisa menghindari Panji.
"Untuk apa Panji tiba-tiba datang setelah sekian lama tidak bertemu. Apa dia ingin meminta maaf, atau akan merebut Zidan dariku," gumam batin Sintia yang merasa bingung. Sintia takut jika Panji merebut Zidan darinya. Selama ini dialah yang mengurus Zidan.
"Tidak, semua itu tidak akan aku biarkan," gumam batin Sintia.
"Ada apa Sintia? Kenapa aku perhatikan sejak tadi namun hanya melamun," tanya Reza yang sedari tadi memperhatikan Sintia didepan pintu. Sementara Sintia tidak menyadari jika Reza berada dihadapannya sejak tadi.
"Sejak kapan kamu berada disana?" tanya Sintia yang menautkan kedua halisnya. Sintia tidak menyadari kedatangan Reza diruangannya. Ia hanya sibuk dengan lamunannya saja.
"Aku dari tadi sini," jawab Reza datar.
"Lalu kenapa tidak memanggilku?" tanya Sintia lagi.
"Sudah berapa kali aku panggil tapi kamu tidak mendengar. Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Reza.
"Aku, aku tidak apa-apa," jawab Sintia yang berusaha menyembunyikan yang sebenarnya. Sintia merasa Reza tidak perlu tahu jika Panji menemuinya, toh itu juga bukan urusannya.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau bercerita, aku hanya ingin memastikan jika kamu tidak kesulitan di hari pertama kamu bekerja," ujar Reza.
"Sejauh ini, aku masih bisa. Nanti jika ada yang tidak aku aku mengerti aku pasti akan menanyakannya," tukas Sintia.
"Ya sudah kalau begitu, aku ke ruanganku dulu," pamit Reza.
"Iya," jawab Sintia singkat. Sebenarnya Sintia tidak ingin selalu menjawab pertanyaan Reza. Akan tetapi ini sedang berada dikantornya, Sintia tidak bisa jika harus mengabaikan Reza. Untuk itu Sintia hanya menjawab seperlunya saja.
Entah kenapa Reza merasa jika Sintia sedang menyembunyikan sesuatu. Sintia terlihat begitu khawatir sejak tadi pagi. Entah apa yang sedang ia pikirkan.
"Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan Sintia? Kemarin perasaan dia masih baik-baik saja. Tapi hari ini, sejak pagi tadi aku perhatikan dia seperti sedang memikirkan sesuatu," gumam batin Reza.
Tidak seharusnya Reza ikut campur dengan urusan Sintia, sebab ia bukan siapa-siapa lagi. Tapi entah mengapa Reza merasa begitu khawatir pada Sintia. Reza selalu saja memikirkan tentang Sintia. Apa ini semua karena janji Reza kepada ayahnya?
"Aku tahu semua ini hanya karena aku sudah berjanji akan selalu menjaga Sintia pada ayahnya. Aku tidak mencintainya, aku hanya ingin memenuhi janjimu saja," gumam batin Reza.