
In the taxi Sintia was confused about where to go. Actually he has no purpose to go anywhere, just that Sintia feels it is not good if you have to trouble Reza and Arin again. Sintia really did not intend to take Reza from Arin.
It's just that there's always a chance for Reza and Sintia to always be together. That's what makes Arin always misunderstand to record both.
"Where shall I go" murmured Sintia.
The car continues to go. It's been almost an hour on their way.
"Sorry ma'am where are we going?" ask the driver politely.
No answer at all. Sintia was still busy in her daydream.
"Mom" called the driver a second time. This time Sintia was shocked. He was surprised because he had been daydreaming.
"Oh yes sir what's wrong?" asked Sintia who linked the two halis. He really did not hear that the driver had called him since.
"Where are you going down? Since I've been going around in circles, where are you really going?" ask the taxi driver. He felt astonished because only this time there were confused passengers.
"Yes I've got down here sir," said Sintia who immediately got out of the car and immediately gave the fare.
"Okay ma'am" replied the driver, who immediately found the car. After the passengers were confirmed down, the driver again plugged the gas. The driver was looking for the next passenger.
"Dimana ini? Apa aku harus mencari hotel atau rumah sewa disekitar sini saja," gumam batin Sintia.
"Mah kita dimana mah? Aku sudah lelah ingin istirahat," rengek Zidan.
"Kita akan cari rumah untuk kita berdua ya nak," ujar Sintia sambil mensejajarkan tubuhnya dengan Zidan.
"Kita jalan sebentar ke depan sana ya. Barangkali ada rumah yang akan disewakan. Kalau untuk menyewa hotel kayanya uang mamah tidak akan cukup," jelas Sintia yang memberikan penjelasan pada Zidan.
Mereka pun berjalan beberapa meter, tidak terlalu jauh Sintia membaca sebuah tulisan jia rumah ini akan disewakan. Sintia pun segera bergegas menuju rumah itu dan mengetuk pintu sang pemilik rumah. Setelah menanyakan benar saja jika rumah itu memang akan disewakan.
Memang cukup sederhana karena hanya ada satu kamar, tapi hal itu sudah cukup bagi Sintia dan Zidan. Sebenarnya bukan Sintia tidak mempunyai cukup uang untuk menyewa hotel atau membeli sebuah rumah. Hanya saja kini sebagai seorang ibu, Sintia harus pandai-pandai mengatur. Keuangan. Ditambah kini ia hanya menjadi orang tua tunggal.
Setelah membayar untuk satu bulan ke depan, Sintia pun segera memasuki rumah itu.
"Saya tinggal ya bu. Ini kuncinya, rumah sudah dibersihkan beberapa hari lalu. Semoga ibu betah tinggal disini," ujar pemilik rumah itu..
"Iya bu terima kasih banyak," jawab Sintia yang segera membuka pintu rumahnya. Rumah yang cukup sederhana karena hanya ada satu kamar.
"Zidan tidak apa-apa kan jika kita akan tinggal disini untuk sementara waktu," ujar Sintia yang mencoba menghibur Zidan.
"Tidak apa-apa mah, Zidan senang. Disini cukup untuk kita tinggal berdua," jawab Zidan yang memang selalu bisa menerima semua ini. Di usianya yang masih kecil Zidan memang selalu bisa memahami ibunya.
"Iya bu, asyik akhirnya kita punya rumah juga," sorak Zidan yang merasa sangat senang setelah hampir seharian penuh dalam perjalanan.
Dirumah itu sudah dilengkapi dengan berbagai perabotan rumah tangga, sehingga Sintia tidak merasa kesulitan meskipun ia baru pertama kali pindah ke tempat itu. Hanya saja bahan makanan yang belum ada di rumah ini.
"Aku harus memasak, kasihan Zidan pasti sudah lapar. Tapi aku bingung harus kemana aku mencari makanan. Aku tidak melihat warung didaerah sini," gumam batin Sintia.
Tok.. tok..
"Permisi," teriak seseorang dari luar rumah.
"Iya sebentar," pekik Sintia yang segera tersadar dari lamunannya.
"Eh ada apa bu? Silahkan masuk," tawar Sintia yang merasa terkejut dengan kedatangan seorang pemilik rumah tadi.
"Tidak usah, saya hanya ingin memberikan sedikit makanan saja untuk anak Ibu," ujar pemilik rumah itu yang segera memberikan makanan berupa nasi dan pauknya.
"Aduh saya jadi tidak enak, tidak perlu repot-repot segala bu," tukas Sintia yang merasa malu karena diberi makanan.
"Tidak apa-apa bu. Saya kasihan karena ibu baru datang dan pasti tidak ada makanan apa-apa. Kalau begitu saya Permisi," pamit pemilik rumah tadi.
"Alhamdulillah kalau begitu bu. Sekali lagi terima kasih banyak bu," tutur Sintia lagi yang merasa senang karena akhirnya ada makanan untuk mereka berdua.
"Sama-sama bu," ujar ibu itu dan segera bergegas pergi.
"Alhamdulillah, baru saja Sintia memikirkan makanan untuk anaknya kini makanan itu ada dihadapannya.
Setelah ibu itu pergi, Sintia segera bergegas masuk dan membawa makanannya. Sintia segera membuka makanan yang diberikan ibu pemilik rumah tadi. Sintia merasa senang karena akhirnya ia dan anaknya bisa makan. Selesai menghabiskan makanannya mereka pun segera bergegas tidur.
"Kasihan kamu nak, diusia kamu yang sekarang kamu sudah merasakan ini semua. Sebenarnya ibu tidak tega melihatmu seperti ini. Jauh dari ayahmu, tapi ibu tidak memiliki pilihan lain," gumam batin Sintia sambil mengelus kepala putranya dengan mata yang berkaca-kaca.
Sintia selalu berandai-andai jika saya ayahnya masih hidup mungkin hidupnya tidak akan seperti ini. Mungkin Zidan akan merasakan kasih sayang seorang kakek. Mungkin Zidan tidak akan merasa kesepian. Lagi-lagi Sintia meneteskan air matanya jika ia mengingat tentang almarhum ayahnya.
"Andai saja dulu aku tidak menyia-nyiakan Reza, mungkin saat ini aku akan hidup bahagia bersama Reza," gumam batin Sintia yang menyesali perbuatannya dulu kepada Reza.
Saat itu Sintia benar-benar tidak menyukai Reza, bahkan ia selalu memandang sebelah mata. Bahkan Sintia tidak pernah menghargai Reza sedikitpun. Kini setelah Reza sudah memiliki wanita lain, justru Sintia mulai menyadari semua kesalahannya.
"Maafkan aku Za, seandainya aku tidak pernah menyia-nyiakan kamu. Mungkin saat ini hidup kita akan bahagia. Tspi apa yang sudah aku pikirkan, tidak baik jika aku selalu memandang ke belakang. Lebih baik kini aku memperbaiki setiap kesalahanku dan lebih fokus dalam menjaga Zidan," guman batin Sintia yang hampir semalaman tidak bisa memejamkan matanya.
Sintia memandangi wajah anaknya disamping Zidan. Sintia merasa berdosa karena masih belum bisa menjadi ibu yang baik. Entah mengapa setiap memandang wajah anaknya membuat hati Sintia merasa tenang. Wajahnya yang begitu polos membuat Sintia ingin lama-lama memandangnya.
"Semoga sehat selalu nak, semoga panjang umur, ibu selalu mendoakan kebahagiaan untukmu sayang. Ibu berharap kamu akan tumbuh menjadi laki-laki yang kuat," ujar Sintia sambil mengusap kepala zidan.