RUINED MY HOPE

RUINED MY HOPE
45. All for the sake of Zidan


Oiya Sintia may I say something," Panji said after taking a sip of his cigarette and storing the cocoa on an ashtray.


"Yes why?" asked Sintia who linked the two halis.


"I beg you to give me a second chance Sintia, I feel unbearable to see Zidan. He looks so happy when we ate together earlier, because I also feel very happy when I can be with you" said Panji.


"Let's know the banner I still can't believe. I'm still afraid of what you've done to me" said Sintia who was confused.


"If about it I promise never to betray you again Sintia," said Panji who is now kneeling under Sintia and holding the hand of Sintia to convince Sintia.


Sintia fell silent for a moment thinking about her relationship with Panji. They haven't really split up yet. At that time Sintia went away from home because she witnessed her husband cheating on her.


But there was never any special action that Sintia did. They have not officially separated, which means they can still re-refer whenever they want. That is what prompted Panji to be able to return to Sintia.


"Are your words to be trusted?" tanya Sintia hesitated.


"Surely Sintia, I promise this time I will never betray you again" said Panji who completely reassured Sintia while holding her hand.


"Alright then I will give you one more chance, but if after this you repeat the same mistake, I will never forgive you again. There is no third chance or even the fourth one" said Sintia who tried to give a chance to Panji.


In fact, he did this solely for the sake of his son Zidan. Sintia also noticed that she had a happy face when Zidan was with her father. That is what makes Sintia finally want to receive Panji back.


"Yes already then tomorrow we go back home yes," asked Panji while holding Sintia's hand.


Sintia simply nodded as a sign of agreement.


Keesokan harinya Zidan sudah bangun pagi-pagi sekali untuk bersekolah. Sedangkan Sintia hari ini meminta izin tidak masuk bekerja karena akan membereskan barang-barangnya menuju rumah Panji kembali.


Sementara Panji mengantarkan Zidan ke sekolah, Sintia disibukan dengan memasukan baju-baju miliknya dan Zidan ke dalam koper besar. Sehingga nanti setelah Panji datang mereka bisa langsung pergi.


Setengah jam kemudian akhirnya Panji kembali ke rumah untuk menjemput Sintia.


"Apa semua sudah beres Sintia?" tanya Panji yang melihat ke sekeliling rumah.


"Sudah, lagi pula hanya ini barang-barangku. Semua ini milik ibu pemilik rumah," jawab Sintia yang sebelumnya sudah berpamitan kepada pemilik rumah.


Panji segera menyeret koper milik Sintia menuju mobilnya. Sedangkan Sintia menatap rumah kontrakannya sebelum ia benar-benar pergi dari tempat ini. Rumah yang penuh akan kenangan walau hanya sesaat.


"Apa ada yang ketinggalan Sintia?" tanya Panji memastikan.


"Ah tidak," jawab Sintia yang langsung mengekor dibelakang Panji.


Setelah Sintia masuk ke dalam mobil, Panji pun segera melajukan mobilnya. Sintia menatap rumah lamanya, ia mengingat akan kejadian malam itu bersama Reza. Begitu menjijikan namun hal itu tidak ingin Sintia ulangi lagi.


"Mungkin memang ini jalan yang terbaik untukku, mungkin dengan aku kembali kepada Panji, Reza tidak akan berani untuk mendekatiku lagi," gumam batin Sintia.


"Ada apa Sintia? Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Panji yang terlihat bingung melihat Sintia tiba-tiba terdiam.


"Tidak, aku tidak memikirkan apa-apa," jawab Sintia.


Panji pun kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak terasa satu jam kemudian akhirnya mereka tiba di rumah Panji.


"Selamat datang kembali di rumah," ujar Panji saat ia membukakan pintu.


"Terima kasih Sintia karena sudah memberikan aku kesempatan yang kedua," ujar Panji sambil memegang tangan Sintia.


"Iya Panji, aku berharap kamu tidak akan pernah mengkhianati kepercayaanku," tukas Sintia yang masih merasa canggung saat baru masuk ke rumahnya kembali.


Sintia pun segera masuk ke dalam kamarnya. Ia merindukan kamar yang selama ini ia tinggalkan.


"Aku berharap aku tidak salah dalam mengambil keputusan," gumam batin Sintia.


"Terima kasih Sintia," ujar Panji yang tiba-tiba datang dan memeluk Sintia dari belakang.


"Iya," jawab Sintia.


Untuk beberapa saat Panji memeluk erat Sintia dari arah belakang. Ia begitu merindukan sang istri yang sudah lama tidak ditemuinya. Sintia yang merasakan kehangatan itupun membalikan tubuhnya.


Kini mereka saling berhadapan dan Panji sedikit mendorong tubuh Sintia ke atas kasur. Panji saat ini menindih Sintia dan mencumbu setiap jengkal tubuh Sintia. Mereka begitu saling merindukan satu sama lain.


Sintia menikmati setiap tindakan yang dilakukan Panji. Permainan itu semakin panas, perlahan tapi pasti Panji segera membuka kancing baju Sintia. Namun tidak ada penolakan yang Sintia lakukan karena ia pun begitu merindukan suaminya.


"Aku sangat merindukanmu Sintia," ujar Panji.


"Aku juga," tukas Sintia.


Seketika mereka pun melakukan hal yang sudah selayaknya mereka lakukan sebagi suami istri. Panji begitu menikmati setiap permainannya, begitupun dengan Sintia yang sama-sama menikmati semua rasa ini.


Hampir satu jam mereka melakukan permainan itu. Kini mereka hampir menuju puncak dari inti permainannya, dan tidak berapa lama akhirnya mereka menuju puncak kemenangan.


Panji kini terkulai lemas di samping Sintia, sementara Sintia berada dipelukan Panji. Sintia sangat merindukan suaminya yang begitu ia cintai. Meski Sintia pernah kecewa karena pengkhianatan suaminya, namun didalam lubuk hatinya yang paling dalam Sintia masih sangat mencintai Panji.


"Kalau begitu aku akan mandi dulu, aku akan menjemput Zidan," ujar Panji yang segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Iya, aku akan menyiapkan makanan sambil menunggu kalian datang," timpal Sintia yang segera bergegas menuju dapur.


Satu jam kemudian akhirnya Panji tiba Di sekolah Zidan.


"Papah, kenapa papah ada disini?" tanya Zidan yang merasa heran karena tiba-tiba ayahnya datang menjemputnya.


"Kejutan," ujar Panji.


"Ayo cepat kita pulang, papah punya satu kejutan lagi untuk Zidan," tukas Panji yang begitu antusias ingin memberitahukan yang sebenarnya kepada Zidan bahwa orang tuanya sudah kembali.


"Kejutan apa pah? Aku jadi penasaran," timpal Zidan yang mulai penasaran dengan kejutan Panji.


Di tempat lain Reza sejak tadi memikirkan Sintia yang tidak masuk bekerja hari ini.


"Kemana Sintia hari ini tidak masuk kerja, apa dia baik-baik saja," gumam batin Reza yang sedari pagi mencari keberadaan Sintia namun tidak kunjung ketemu.


"Setelah pekerjaanku selesai aku akan mendatangi rumahnya, aku takut jika Sintia kenapa-napa," gumam batin Reza lagi yang sejak tadi merasa gelisah.


Beberapa menit kemudian akhirnya Reza membereskan semua pekerjaannya. Reza sudah tidak sabar ingin segera menemui Sintia. Reza pun akhirnya segera bergegas menuju rumah Sintia.