
It didn't take an hour for Reza to finally get home.
"Nobody's home yet?" asked Arin who happened to open the door.
"Yes Rin, my sister has a surprise for you" Reza said, kneeling before Arin and giving a bouquet of flowers.
"What a beauty," said Arin who looked so happy when he received the bouquet.
"Wait, here's another one" said Reza, who immediately pulled chocolate out of her briefcase.
"What a surprise, I was moved. But in what order, brother? I'm not having a birthday" said Arin, who felt something strange. While since yesterday Reza looks so sad and cold, but this time Reza suddenly acted romantic.
"What's this about? What the hell's going on? Is Reza's sister hiding something?" inner murmur Arin.
"Rin, what's wrong with you? How come you're dumb?" asked Reza who waved her hand in front of Arin because suddenly Arin was silent.
"Eh no brother, I'm fine. I'm just surprised, because it's not usually a sister like this" Arin said again.
"But are you happy with all this Rin?" ask Reza to make sure.
"Yes, brother, I'm happy. Thank you brother," said Arin who smiled knotty.
Arin was happy because Reza was not cold and quiet like yesterday. Now Reza is being kinder and more romantic. Today Reza is back as Reza used to be.
"Maafkan kakak Rin, kakak akan memperbaiki kesalahan kakak. Dan kakak tidak akan mengulangi lagi kesalahan itu," gumam batin Reza yang menatap istrinya dengan penuh rasa penyesalan.
Setelah memberikan semua kejutannya, kini mereka masuk ke dalam rumah. Arin merasa senang, begitupun dengan Reza yang merasa lega karena akhirnya Arin tersenyum kembali.
Mungkin karena sikap Reza yang kemarin seperti itu sehingga membuat Arin sedikit bersedih. Walau tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga, akan tetapi hal itu membuat Arin menjadi tidak nyaman.
"Apa semua baik-baik saja? Orang bilang jika laki-laki tiba-tiba memberikan perhatian yang lebih, itu artinya dia sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi aku harap kak Reza tidak seperti itu," gumam batin Arin yang lagi-lagi merasa curiga dan khawatir dengan apa yang dilakukan suaminya.
"Makan dulu kak," tawar Arin yang segera menyiapkan makanan diatas meja. Sementara anaknya ia titipkan pada asisten rumah tanggannya.
"Baik Rin, tapi kamu juga ikut makan ya," ujar Reza yang segera meraih tangan Arin untuk makan bersama.
Tanpa menjawab apa-apa Arin pun mengangguk sebagai tanda setuju. Memang sedari tadi Arin begitu sibuk mengurus anaknya hingga ia lupa pada dirinya sendiri. Bahkan setelah kejadian kemarin membuat Arin tidak berselera untuk makan.
Meski tidak berkata apa-apa, tapi sikap Reza membuat pikiran Arin sangat terganggu. Padahal tidak biasanya Reza bersikap seperti itu. Sikapnya yang tidak bisa ditebak membuat pikiran Arin merasa sedih.
"Makan yang banyak kak," ujar Arin untuk mengalihkan perhatiannya.
"Iya rin kamu juga ya," tukas Reza.
Entah mengapa sesekali Reza ingin menyuapi Arin. Arin pun spontan membuka mulutnya dan mereka terlihat begitu romantis. Arin merindukan masa-masa seperti ini. Masa-masa saat Reza bersikap romantis kepadanya.
Malam pun menjelang setelah mereka selesai makan, mereka segera bergegas menuju kamarnya untuk beristirahat.
"Maafkan kakak Rin," ujar Reza saat berbaring disamping Arin.
"Maaf karena kakak belum bisa menjadi suami yang baik," timpal Reza sambil meraih tangannya Arin.
"Aku juga sama kak, maaf aku belum bisa menjadi istri yang baik," lirih Arin yang sama-sama merasa tidak enak.
Reza pun merasa menyesali semuanya dan ingin mengakui semua kesalahannya akan tetapi Reza takut jika Arin akan merasa kecewa. Mungkin seiring berjalannya waktu Reza akan mengatakan yang sebenarnya.
"Mungkin kakak akan mengatakan semuanya diwaktu yang tepat Rin," gumam batin Reza sambil memeluk Arin.
Sementara ditempat lain Sintia juga merasakan hal yang sama. Sintia merasa tidak tenang saat bersama Panji. Sintia ingin mengatakan hal yang pernah ia lakukan dengan Reza agar hatinya bisa tenang.
Setelah Zidan tertidur pulas, di dalam kamar Sintia selalu berbicara terlebih dahulu dengan Panji. Mereka akan mengatakan atau memperbaiki kesalahan mereka di hari itu.
Meski ragu tapi Sintia berusaha untuk mengatakannya karena walau bagaimanapun Panji juga pernah melakukan hal itu. Sintia merasa tidak enak saat Panji melakukan hal itu, mungkin Panji juga akan merasakan hal demikian.
"Panji," panggil Sintia yang sebelumnya menarik nafas terlebih dahulu.
"Ya, ada apa Sintia?" tanya Panji yang menautkan kedua halisnya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu," lirih Sintia yang kini terlihat begitu serius.
"Ada apa Sintia? Katakanlah," tukas Panji yang kini mendekati Sintia.
"Aku sebenarnya pernah tidur bersama Reza, tapi aku khilaf dan menyesali perbuatan itu," lirih Sintia yang kini menangis dipelukan Panji.
Mendengar hal itu membuat Panji terdiam. Ada perasaan kecewa yang Panji rasakan, namun Panji tidak bisa berbuat apa-apa karena dia juga pernah melakukan hal yang sama.
Panji mengambil nafas panjang-panjang. Panji berbicara setenang mungkin.
"Ya Sintia tidak apa-apa, sebenarnya aku juga merasa kecewa dan sakit hati setelah mendengar hal itu. Tapi aku juga pernah melakukan hal yang sama kepadamu. Mungkin semua ini adalah balasanku. Tidak apa Sintia, aku tidak marah," timpal Panji yang berusaha bersikap bijaksana.
Mendengar kata-kata itu membuat Sintia terdiam.
"Terima kasih Panji, karena kamu sudah mau memaafkan aku," lirih Sintia yang kini merasa lega setelah mengatakan yang sebenarnya.
"Tidak usah berterima kasih Sintia karena aku juga pernah melakukan hal yang sama. Yang terpenting saat ini kita perbaiki semuanya sama-sama, kita mulai dari awal lagi," ujar Panji.
"Iya Panji aku juga berfikir seperti itu, terima kasih atas pengertiannya," ujar Sintia yang kini memeluk erat suaminya.
Sebagai seorang laki-laki Panji juga merasa kecewa dan sakit hati, namun saat ini dia juga menyadari jika dia juga pernah melakukan hal yang sama. Karena itulah Panji mau memaafkan kesalahan Sintia.
Setelah pembicaraan mereka selesai, kini mereka saling berpelukan. Mereka saling memaafkan satu sama lain lain dan memulai segalanya dari awal lagi. Panji memeluk Sintia dengan begitu eratnya, begitupun dengan Sintia yang membalas pelukan Panji.
Kini tidak ada masalah lagi diantara mereka. Mereka sudah sama-sama merasa tenang dan sama-sama ingin memperbaiki diri. Mereka kini ingin menjadi orang tua yang lebih baik lagi bagi Zidan anak mereka satu-satunya.
"Apa aku boleh melakukan kewajibanku Sintia?" tanya Panji sebelum melakukan hal itu.
"Tentu Panji itu sudah menjadi hakmu, kamu boleh memintanya kapanpun kamu mau," ujar Sintia. Mereka pun akhirnya melakukan penyatuan cinta.