
Already a few days Sintia is still busy looking for work, but the results are still nil. To date, he has not found a suitable job for himself. When there is an offer, he actually has to work as a masseuse. Of course it is not wanted by Sintia.
Sintia was back looking for work, she entered a proposal to several companies.
"Where else should I look for a job, even to this day I still do not get a job. How'this?" said Sintia who just came home looking for a job.
Sintia sat down and leaned back in the chair. He felt very tired after almost a day of wandering around looking for and entering several job applications. There was no other choice for Sintia, she could not continue to stand still. He must have income.
Tok..
"Who is? Is that the owner of the house?" muttered monologues.
Sintia rushed to open the door. Sintia felt astonished because there had never been a guest who came to her house other than the owner of the house. Slowly but surely Sintia opened the door of her house. As she opened the door, Sintia saw a man standing behind her.
"That guy? I think I know him, but why did he come here?" again in the heart.
"Sintia," said the man who had just realized that the owner of the house had opened the door.
"Reza's? What are you doing here?" sintia asked who was surprised by the arrival of her ex-husband.
"May I sit down" said Reza, who sat on the chair in the Sintia house.
"Of course, please sit down, I will make a drink first," said Sintia who immediately rushed to the kitchen to make coffee. During her time as Reza's wife, Sintia never made coffee even for her husband. But this time either there is a wind what makes Sintia better.
Tanpa banyak berkata-kata Reza pun hanya menganggukan kepalanya. Sembari menunggu kedatangan Sintia dari dapur, Reza memainkan ponselnya melihat-lihat media sosial. Reza sesekali melihat beranda di facebook miliknya. Ia pun tersenyum ketika melihat video yang lucu atau saat membuka status milik temannya yang sedang galau dalam percintaan. Tidak seharusnya mereka mengungkapkan perasaannya di media sosial yang terlihat oleh khalayak umum.
Beberapa menit kemudian akhirnya Sintia datang dengan membawa 2 gelas kopi dan satu toples cemilan untuknya dan juga Reza.
"Silahkan diminum dulu Za," tawar Sintia sesaat setelah meletakan minumannya dihadapan Reza.
"Terima kasih Sintia," jawab Reza yang segera menyeruput minumannya sedikit demi sedikit.
"Jadi kamu tahu dari mana jika aku sekarang tinggal disini?" tanya Sintia yang membuka pertanyaan diantara mereka.
"Maaf Sintia sebenarnya aku mengintaimu selama beberapa hari ini. Aku merasa tidak tega karena akhir-akhir ini kamu mencari pekerjaan," jawab Reza yang menceritakan tentang yang sebenarnya.
"Apa? Mengintai? Tapi untuk apa kamu membuang waktu hanya untuk ini," tanya Sintia lagi yang menautkan kedua halisnya.
"Sebenarnya aku masih merasa bersalah, karena dulu aku pernah berjanji kepada papah bahwa aku akan selalu menjaga dan melindungimu" ujar Reza yang membuang nafasnya secara kasar.
"Ya ampun Za, itu sudah sangat lama. Lagipula sekarang papah juga sudah tenang berada dalam sana," tukas Sintia yang merasa tidak percaya jika selama ini ternyata dirinya diawasi.
"Aku tahu tapi aku sudah berjanji. Meski tidak secara langsung menjagamu, tapi aku memiliki orang kepercayaanku untuk menjagamu dari kejauhan," ujar Reza.
"Aku juga sudah tahu jika akhir-akhir ini kamu sedang mencari pekerjaan," tambah Reza lagi.
"Apa? Jadi kamu tahu juga kalau selama ini aku,"tukas Sintia yang merasa terkejut karena dia tidak menyangka bahwa Reza tahu semua tentang dirinya.
"Ya aku tahu Sintia," timpal Reza.
"Apa? Tapi aku tidak bisa," ujar Sintia yang masih merasa bingung.
"Tidak bisa bagaimana?" tanya Reza yang menautkan kedua halisnya.
"Entahlah aku merasa tidak enak dengan Arin. Aku merasa jika aku sudah tidak berhak lagi," lirih Sintia yang merasa bingung harus berbuat apa. Disisi lain dia memang sangat membutuhkan pekerjaan ini. Tapi di lain sisi Sintia tidak bisa jika bekerja satu perusahaan dengan Reza.
"Oke kalau begitu, bagaimana jika kamu memikirkannya dulu. Coba pikir baik-baik, setidaknya lakukan ini untuk anakmu," timpal Reza yang mencoba memberikan pencerahan pada Sintia.
"Baiklah kalau begitu, beri waktu aku untuk berfikir. Aku belum bisa mengambil keputusan sekarang," jawab Sintia lagi.
"Ya sudah kalau begitu aku permisi, jika sudah ada keputusan segera hubungi aku," pamit Reza yang segera bergegas pergi meninggalkan rumah Sintia.
Tak terasa obrolan mereka ternyata cukup lama. Setelah kepergian Reza, Sintia segera membereskan gelas dan membawanya ke dapur. Di dalam rumah Sintia kembali memikirkan tentang apa yang dibicarakan Reza. Sintia benar-benar bingung harus berbuat apa.
Tidak lama Zidan baru saja pulang sekolah.
"Mamah.." teriak Zidan yang baru saja masuk ke rumah.
"Hai sayang, sudah pulang? Bagaimana tadi disekolah?" tanya Sintia yang segera memeluk anaknya.
"Tadi di sekolah seru mah, kita memainkan permainan. Pokoknya aku merasa sangat senang hari ini," jawab Zidan.
"Wah syukurlah, mamah senang dengannya," ujar Sintia.
"Ya sudah kamu ganti baju dulu ya, setelah itu kita makan," tukas Sintia.
"Iya mah," jawab Zidan yang segera bergegas ke kamarnya.
Di usianya yang masih sangat kecil, Zidan sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Ia sudah bisa mengganti pakaiannya sendiri dan menyimpan tasnya Di tempat biasa yang ia simpan.
Sementara ditempat lain Reza baru saja tiba dirumahnya. Meski merasa lelah tapi Reza ingin segera membicarakan hal ini pada istrinya, karena Reza tidak bisa menyembunyikan apa-apa dari istrinya.
"Oiya Ron, kakak tadi menemui Sintia," ujar Reza sambil duduk di sebelah Arin.
"Apa? Tapi untuk apa kakak menemui kak Sintia?" tanya Arin yang menautkan kedua halisnya.
"Tunggu Rin, kamu jangan salah paham dulu. Kakak menemui dia hanya karena merasa kasihan karena dia sedang membutuhkan pekerjaan," jawab Reza secara detail.
"Tapi kenapa kakak harus repot-repot segala memikirkan kak Sintia," tukas Arin yang merasa cemburu. Arin sebenarnya tidak suka jika suaminya berdekatan dengan mantan istrinya, namun Arin tidak bisa berbuat apa-apa. Arin hanya bisa mengiyakan saja tentang keputusan suaminya.
"Arin, kamu kenapa?" tanya Reza yang melihat Arin tiba-tiba terdiam.
"Tidak apa-apa kak, aku ke dapur dulu ya mau menyiapkan makanan," pamit Arin yang segera bergegas meninggalkan Reza. Sebenarnya Arin tidak suka saat Reza membicarakan Sintia. Untuk itu Arin segera pergi meninggalkan suaminya.
"Arin kenapa ya? Kenapa tiba-tiba begitu," gumam batin Reza.