RUINED MY HOPE

RUINED MY HOPE
32. An Unusual Taste


Reza should not interfere with the affairs of Sintia, because he is no one else. But somehow Reza felt so worried about Sintia. Reza always thought about Sintia. Is this all because of Reza's promise to his father?


"I know all this just because I promised to keep Sintia with her father. I don't love her, I just want to keep my promise" Reza murmured.


After almost a day of work, the time has come for Sintia to go home. Reza noticed Sintia was getting ready and was about to walk towards the parking lot.


"Sintia," called Reza as she ran towards Sintia.


"Well, what's up, Za?" asked Sintia who linked the two halis.


"I'll take you home" Reza said.


"Ti, no need Za. I can go home by myself" replied Sintia.


"But it will definitely trouble you," added Sintia again.


"No Sintia, I don't mind," said Reza who immediately opened the door for Sintia.


Feeling bad about Reza's treatment, Sintia finally accepted Reza's offer. No serious talk along the way. They just stay quiet with each other.


"What about Zidan Sintia's school?" tanya Reza opened the chat.


"Zidan is good, he feels so happy when he is at school" replied Sintia.


"Syukurlah kalau begitu, aku merasa senang mendengarnya," ucap Reza sambil tersenyum saat sedang menyetir.


"Apa ayahnya pernah menjenguk atau bahkan sekedar menanyakan kabarnya?" tambah Reza lagi.


Deg..


Pertanyaan itu membuat Sintia merasa gelisah. Sintia bingung harus menjawab seperti apa sebab baru saja tadi pagi ia bertemu dengan Panji.


"Sintia? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Reza yang merasa heran karena melihat Sintia tiba-tiba terdiam.


"Sintia, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Reza yang masih melihat Sintia terdiam.


"Ti, tidak. Aku tidak apa-apa," jawab Sintia.


"Ya sudah jika kamu tidak mau menjawabnya tidak apa-apa. Kamu tidak usah menjawab setiap pertanyaanku," ujar Reza yang merasa kecewa.


Mendengar pernyataan itu membuat Sintia merasa bingung dan tidak enak hati. Namun tanpa terasa akhirnya mereka tiba di halaman rumah Sintia.


"Terima kasih karena sudah mau mengantarku Za," ucap Sintia sambil berlalu keluar rumah.


"Ya sama-sama Sintia, tapi itu siapa?" tunjuk Reza pada seseorang yang sedang duduk diteras Sintia.


"Mas Panji? Sedang apa dia disini?" gumam batin Sintia.


Reza pun segera keluar dari mobilnya dan melihat lebih dekat siapa laki-laki itu.


"Panji? Sedang apa dia disini?" gumam batin Reza yang mengepalkan tangan kanannya.


"Jadi karena ini alasan kamu tidak mau berbicara kepadaku tadi pagi. Jadi karena dia kamu menghindariku?" tanya Panji yang melihat kedatangan Sintia dan juga mantan suaminya.


"Apa maksudmu?" tanya Reza yang menghampiri Panji.


"Ah sudahlah tidak usah banyak basa-basi," pekik Panji yang merasa kesal melihat Sintia bersama Reza. Merasa cemburu Panji pun langsung melayangkan pukulannya dipipi Reza.


Bug..


Reza seketika tersungkur saat menerima pukulan keras dari tangan Panji.


"Apa yang kamu lakukan mas?" tanya Sintia yang langsung menolong Reza.


"Kamu tidak apa-apa Za? Wajahmu terluka," lirih Sintia yang merasa tidak tega melihat ujung bibir Reza berdarah.


"Apa yang kamu lakukan Mas? Tidak seharusnya kamu melakukan ini! Tolong pergi dari sini sebelum aku panggil warga mas!" ancam Sintia yang merasa tidak suka dengan apa yang dilakukan Panji.


"Tapi Sintia aku hanya ingin menemui Zidan saja, tolong pertemukan aku dengan anakku," lirih Panji.


"Tidak mas, cepat pergi dari sini!" pekik Sintia.


"Baiklah kalau itu yang kamu minta. Tapi aku  datang kemari lagi untuk membawa Zidan," ujar Panji sesaat sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


Sintia yang mendengar hal itu langsung merasa khawatir. Sintia takut jika Panji benar-benar membawa Zidan jauh darinya. Setelah kepergian Panji, Sintia pun mencoba mengobati luka Reza.


"Tunggu disini Za, aku akan membawakan kotak P3K," pamit Sintia yang segera bergegas masuk mencari kotak P3K.


Sementara tanpa menjawab pertanyaan Sintia, Reza hanya mengangguk dan langsung duduk diteras rumah Sintia. Reza memegang lukanya yang terasa sedikit perih diujung bibirnya.


"Sialan! Awas saja kamu Panji! Aku akan membalasnya," gumam batin Reza.


Beberapa detik kemudian Sintia datang dan segera mengobati luka Reza.


"Maaf Za," ujar Sintia sambil mengusap ujung bibir Reza dengan kapas yang sebelumnya diberi alkohol.


"Aw,," ujar Reza yang merasakan perih saat Sintia mulai mengobatinya.


"Maaf atas perbuatan Panji Za, aku tidak menyangka jika dia akan melakukan hal itu kepadamu," timpal Sintia sambil mengobati Reza yang kini mengusap luka itu dengan betadine.


"Tidak apa-apa, mungkin dia merasa cemburu. Lagipula aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku  berada diposisinya," tukas Reza sambil memegangi wajahnya yang terasa perih.


"Terima kasih Sintia," ucap Reza saat Sintia selesai mengobatinya.


"Iya Za sama-sama, ini sudah menjadi kewajibanku," timpal Sintia.


"Apa yang dia katakan tadi? Kalian bertemu tadi pagi?" tanya Reza yang baru mengingat kata-kata Panji.


Sebenarnya Sintia tidak pernah ingin menceritakan masalahnya kepada Reza. Namun setelah kejadian ini, Sintia terpaksa harus menceritakan yang sebenarnya. Perlahan tapi pasti Sintia pun mulai menceritakan kejadian tadi pagi.


"Oh jadi karena ini sejak pagi Sintia banyak melamun," gumam batin Reza.


"Ya sudah kalau begitu aku pamit, sudah  sore. Terima kasih karena sudah mengobatiku Sintia," pamit Reza yang segera bergegas dari rumah Sintia.


"Iya Za, sama-sama. Hati-hati dijalan," ujar Sintia sesaat sebelum Reza pergi.


Tanpa menjawab Reza pun hanya menganggukan kepalanya. Reza segera pulang meninggalkan halaman rumah Sintia. Satu jam kemudian akhirnya Reza tiba dirumah.


"Assalamualaikum," ujar Reza saat baru memasuki rumahnya.


"Waalaikumsalam. Loh kak wajah nya kenapa? Apa kakak berantem?" tanya Arin yang begitu khawatir setelah melihat wajah Reza.


"Tidak apa-apa Rin, kakak hanya terjatuh," jawab Reza yang terpaksa harus berbohong. Reza tidak mungkin jika harus menceritakan kejadian yang sebenarnya, Arin pasti akan merasa cemburu jika ia tahu bahwa Reza mengantarnya pulang.


"Ya sudah kakak mandi dulu, setelah itu kita makan ya," ujar Arin.


"Iya Rin," jawab Reza yang segera bergegas ke dalam kamarnya.


Arin memang sengaja tidak banyak bertanya pada Reza. Arin juga merasa sangat yakin jika luka yang ada diwajah Reza bukan karena terjatuh, tapi seperti ada orang yang memukulnya.


"Aku tahu kak. Kakak pasti berbohong kan? Aku bukan anak kecil lagi kak yang bisa kakak bohongi. Tapi sebenarnya dengan siapa kakak bertengkar? Masalah apa yang sebenarnya sudah terjadi?" gumam batin Arin bermonolog.


Meski dalam pikirannya begitu banyak pertanyaan, tapi Arin berusaha bersikap biasa dihadapan suaminya.