RUINED MY HOPE

RUINED MY HOPE
3. Cintia Rejection


Reza who was already in the room still could not close his eyes. Reza feels he wants what he should get from a wife whenever he wants. However, with the quarrels that always occur between them make Reza lazy to approach Sintia.


I don't know how many times he turned his body to the left side, then to the right side. Even his back and neck did not forget he tried, but Reza still could not close his eyes. Finally he saw Sintia out of the room .


"Sintia," said Reza who immediately sat beside Sintia.


"What?" tanya Sintia cynically who still sees the show on television.


"Me, me" said Reza again who now approached Sintia so close.


"I'm going to go to the room" cried Sintia who immediately rushed to leave Reza in the guest room. Sintia who felt lazy, did not pay attention to the existence of Reza. Sintia instead immediately passed away leaving the tv room and immediately rushed towards her room.


"Where are you going Sintia?" ask Reza annoyed.


Without answering Reza's question, Sintia just glanced at him and immediately rushed off towards her room. Without further ado Reza immediately followed Sintia into his room. Slowly but surely Reza opened the door to his room.


"Sintia," said Reza who approached Sintia who was lying in bed and immediately pretended to sleep.


"Sintia, I beg you. I haven't had that for a long time" said Reza, who fasted long enough.


As a normal man Reza should have earned his right. But Sintia, who did not understand Reza's situation, was indifferent to Reza. Sintia even just pretended to sleep so that he was free from his obligations.


While Reza who felt hurt because of Sintia's rejection felt angry. But Reza's anger will not make Sintia obey him. An irritated Reza immediately rushed to the tv room with her pillows and blankets.


Padahal Reza sudah sangat menginginkan hal itu, namun ia hanya mendapatkan kekecewaan karena penolakan Sintia. Meski tidak ada kata-kata menolak, tapi Reza tahu benar tentang sikap istrinya yang tidak pernah memperdulikan Reza sebagai suaminya.


"Ya sudah jika kamu tidak mau, aku akan pergi!" pekik Reza yang segera bergegas ke luar kamar.


Sintia yang mendengar suara pintu kamar yang tertutup pun sontak membuka matanya. Sudah sangat lama Sintia selalu bersikap seperti itu. Tidak mau tahu bahkan tidak perduli dengan Reza. Sementara Reza hanya bisa menghela nafas atas setiap perilaku istrinya.


Bukan tanpa alasan Sintia bersikap itu. Dahulu orang tuanya selalu memanjakan Sintia dan selalu memenangkan Sintia. Sehingga kini ia tumbuh menjadi anak yang egois. Selain itu, Sintia juga merasa kesal sebab dulu ia ternyata dijodohkan oleh ayahnya.


Flash back On


Reza yang bekerja disalah satu perusahaan konstruksi saat itu memang sangat dipercaya oleh atasannya. Ia adalah Pak Eko Wijaya, pemilik Wijaya Grup. Perusahaan yang bergerak dalam bidang konstruksi itu memang sudah dikenal dimana-mana. Selain memiliki nama yang sudah dikenal banyak orang, ternyata Wijaya Grup menggunakan bahan-bahan berkualitas untuk pembangunannya. Sehingga banyak orang yang selalu memakai jasa Wijaya Grup.


Saat itu Reza yang bekerja sebagai orang kepercayaan Pak Eko memiliki kinerja yang bagus saat  berada dikantornya. Sejak awal Pak Eko memperhatikan Reza yang begitu pintar dan sopan terhadap orang yang lebih tua dari dirinya.  Selain itu ia  juga merupakan laki-laki yang sangat baik, sehingga Pak Eko pun berniat untuk menjodohkan putrinya yang bernama Sintia Azkya dengan Reza.


Hari itu  beberapa saat setelah meeting selesai, tiba-tiba saja Pak Eko tidak  sadarkan diri.


"Pak, pak anda kenapa?" tanya Reza yang begitu panik saat melihat atasannya tiba-tiba tergeletak. Semua orang pun tampak  berkerumun melihat keadaan Pak Eko.


"Cepat telepon ambulan," ujar Reza yang segera mengangkat Pak Eko ke ruangannya, lalu ia baringkan diatas sofa yang ada diruangan itu.


Tidak berapa lama akhirnya ambulan itu datang, Pak Eko  segera dilarikan ke rumah sakit. Dengan kecepatan  tinggi mobil itu melaju. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Reza menghubungi Sintia untuk memberitahukan kondisi ayahnya.


"Bagaimana kondisi papah? Apa  papah baik-baik  saja?" tanya  Sintia yang sedikit berlari menghampiri Reza.


"Beliau sedang dalam pemeriksaan dokter bu," jawab Reza.


"Kenapa semua ini bisa terjadi?"  tanya Sintia lagi.


"Saya juga tidak tahu bu, tiba-tiba saja Pak  Eko pingsan setelah meeting tadi," jawab Reza secara detail.


Beberapa saat kemudian, salah seorang perawat keluar dari ruang UGD.


"Permisi ada yang namanya Sintia dan Reza?" tanya perawat itu saat membuka pintu.


"Saya!"  jawab Sintia tunjuk tangan.


"Saya!" timpal Reza.


"Anda dan Pak Reza diminta untuk masuk ke dalam ruangan," tukas perawat itu dan segera meninggalkan mereka.


"Ada apa Pak Eko memanggilku juga?" gumam batin Reza yang merasa tidak enak hati.


Tanpa membuang waktu Sintia dan Reza pun segera  masuk ke dalam ruangan itu.


"Papah tidak  apa-apa?" tanya Sintia yang langsung memeluk ayahnya.


"Ayah tidak apa-apa nak," jawab Pak Eko yang membalas pelukan anaknya. Meski terlihat begitu pucat, tapi Pak Eko berusaha kuat dan tetap tersenyum dihadapan anaknya.


"Ada  satu hal yang papah minta,  anggap  saja ini permintaan terakhir papah," ujar Pak Eko lirih.


"Kenapa papah berbicara seperti itu, apa saja kemauan papah pasti akan aku usahakan," jawab Sintia yang merasa sedih dengan kata-kata ayahnya.


"Begini nak, papah ingin kamu menikah dengan Reza. Papah sangat yakin jika Reza adalah laki-laki  yang bertanggungjawab.


Mendengar pernyataan papahnya membuat Sintia dan Reza saling  pandang. Tapi tidak ada pembicaraan diantara mereka.


"Tapi kenapa harus dengan dia pah?" protes Sintia yang merasa tidak setuju dengan keputusan papahnya.


Sementara Reza tidak bisa berbuat apa-apa. Reza tidak bisa menolak permintaan atasannya sebab dia   sudah begitu baik kepada Reza.  Mungkin  Reza akan menerima perjodohan ini sebab ia sangat menghormati Pak Eko yang sudah sangat baik kepadanya.


"Karena papah sudah tahu tentang sikap dan perilaku Reza  nak, papah yakin jika Reza adalah laki-laki yang tepat untukmu. Papah akan merasa tenang jika kamu menikah dengan Reza nak. Uhuk.. uhuk.." setelah  pembicaraan itu  tiba-tiba Pak Eko batuk, keadaannya menjadi kritis kembali.


"Dokter! Dokter!" pekik Reza yang segera berlari keluar mencari dokter.


"Papah.." teriak Sintia yang merasa takut kehilangan papahnya. Sintia begitu menyanyangi papahnya karena semenjak ibunya meninggal, Sintia hanya tinggal berdua bersama papahnya.