
Arin and his friends began to enter his job application. A few months passed but there was still not a single call. Until one day Arin got a call at one of the baby and child clothing stores. For the first time Arin had to interview before work. In the interview, Arin was only asked a few questions and worked on problems such as mathematics.
For Arin, filling out math problems is not difficult, and it's true that after being examined Arin got the highest score. After the interview and working on the matter, Arin was finally accepted to work in the store. And tomorrow Arin should have started working.
The next day Arin was ready to go to the store. On her first day, Arin wore black and white. Arin came to the store with a letter of introduction that had to be given to the supervisor. After seeing and reading the cover letter, Arin was finally welcome to start working.
"You can get to work today" the supervisor said after reading the letter and offered his hand as a welcome sign.
"Thank you ma'am" replied Arin who immediately shook the supervisor's hand.
After shaking hands, Arin was directed to the store and introduced to other friends. Everyone seemed happy at the arrival of the new employee. Without being stale Arin immediately directed every work. Not too heavy Arin is only asked to tidy up items that look messy.
It does not feel like 8 hours Arin is working, it means Arin can be ready to go home. The first day of work made Arin feel tired.
Elsewhere, Reza was fighting with his wife. His wife was always angry and uncaring.
"Is there no rice or food in the house?" ask Reza who just got home from work. After a day of work made Reza feel hungry, so when he came he immediately rushed towards the kitchen.
"I didn't have time to cook because I also just came home" Sintia replied without guilt.
"Where do you go all day until you don't have time to cook! Can't just buy it or order it online!" pekik Reza who increasingly felt indignant with the behavior of his wife who always behaved arbitrarily.
"I don't want to argue with you!" peekik Sintia who immediately rushed to her room.
Sementara Reza yang merasa sangat kesal karena baru pulang bekerja yang seharusnya disambut dengan baik justru malah bertambah lelah. Setiap pulang bekerja ada saja hal kecil yang menjadi pemicu pertengkaran mereka.
Diusia pernikahannya yang baru berusia 3 tahun, Reza dan Sintia masih belum dikaruniai seorang anak. Untuk itu Sintia selalu pergi bersama teman-temannya saat Reza tidak ada dirumah. Sebenarnya Reza sudah muak dengan segala tingkah Sintia, akan tetapi Reza selalu berharap jika pernikahannya bisa diperbaiki.
Sementara Reza yang sudah merasa lapar sejak tadi akhirnya mengurungkan niatnya untuk makan. Reza bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa menit setelah membersihkan diri akhirnya Reza pergi ke luar untuk mencari makan sebab perutnya sudah keroncongan sejak tadi.
Sintia yang mendengar suara motor Reza hanya melihat kepergian Reza dari balik jendela.
"Mau pergi kemana dia malam-malam begini? Ah sudahlah aku tidak perduli," ujar Sintia yang kembali menutup tirai jendelanya.
Sebenarnya ada mobil yang biasa digunakan Reza, hanya jika jaraknya dekat Reza lebih memilih memakai motor. Sepanjang perjalanan Reza merasa bingung harus mencariĀ makanan apa. Hingga akhirnya Reza pun memilih untuk memakan nasi goreng saja.
"Pesan 1 pak, pedasnya sedang," ujar Reza yang mendekati juru masak itu. Meski Reza merupakan orang yang cukup berada tapi dia merasa senang mencari makanan dipinggir jalan. Rasanya ada kenikmatan tersendiri yang ia rasakan.
"Siap pak, mohon ditunggu," jawab juru masak itu yang terlihat sibuk memasak.
Ditempat itu begitu ramai oleh para pengunjung. Reza memainkan ponselnya sambil menunggu pesanannya datang. Ia pun membuka media sosial untuk menghindari kejenuhan saat menunggu pesanannya datang.Namun saat melihat ke arah lain Reza seperti melihat seseorang yang ia kenal.
"Bukannya itu Arin?" gumam batin Reza.
"Arin!" teriak Reza yang melambaikan tangannya ke arah Arin.
"Eh kak Reza disini juga?" tanya Arin yang menautkan kedua halisnya.
"Iya, kamu mau makan disini juga? Disini saja," tawar Reza yang mengajak Arin makan bersama.
Mereka pun akhirnya menunggu pesanan mereka datang. Tidak berapa lama akhirnya pesanan mereka datang juga. Antara Reza dan Arin memang sudah lama dekat. Arin sudah menganggap Reza sebagai kakaknya sendiri. Begitupun dengan Reza yang sudah menganggap Arin sebagai adiknya sendiri.
"Gimana rasanya mulai kerja," tanya Reza yang membuka pembicaraan.
"Lelah kak, ternyata kerja itu cape ya," jawab Arin polos.
"Ya iyalah yang namanya kerja pasti cape. Mana ada orang kerja ga cape," jawab Reza.
"He he," kekeh Arin yang merasa malu karena ucapannya sendiri.
Tidak terasa mereka berbicara begitu lama. Kini saatnya Arin pulang karena besok ia harus bekerja.
"Biar kakak antar pulang ya," tawar Reza.
"Tidak usah kak, aku bisa pulang sendiri," jawab Arin.
"Tapi ini sudah malam loh," ucap Reza yang memperingatkan Arin.
Akhirnya Arin pun diantar pulang oleh Reza, meski sedikit jauh tapi Reza tidak mempermasalahkan itu. Beberapa saat kemudian akhirnya Arin tiba dihalaman rumahnya.
"Terima kasih kak karena sudah mengantarku pulang," ujar Arin setelah turun dari motornya.
"Sama-sama rin, kalau begitu kakak pulang ya," pamit Reza yang segera pergi pulang.
"Siapa yang mengantarmu pulang rin?" tanya Pak Cokro yang melihat anaknya diantar oleh seorang pria.
"Dia teman Arin yah," jawab Arin yang baru masuk kedalam rumahnya.
"Hati-hati berteman dengan laki-laki jangan terlalu dekat," ujar Pak Cokro yang mengkhawatirkan anak gadisnya.
Tanpa banyak kata-kata Arin pun hanya menganggukan kepalanya dan segera masuk ke dalam kamarnya.
Meski Pak Cokro terlihat sangat dingin dan acuh, tapi jauh didalam lubuk hatinya Pak Cokro sangat menyanyangi anaknya. Hanya saja Pak Cokro tidak pernah mengucapkan atau menunjukan kasih sayangnya kepada Arin. Hal itulah yang membuat Arin merasa jika ayahnya tidak pernah perduli kepadanya.
Sementara itu ditempat lain lagi-lagi Reza selalu disambut dengan kemarahan Sintia.
"Kamu kemana aja kok dari tadi baru pulang!" tanya Sintia sinis.
"Aku keluar cari makan, emangnya kenapa?" tanya Reza balik.
"Cari makan kok lama amat!" seru Sintia yang selalu merasa curiga pada Reza.
"Kalau tidak percaya ya sudah, untuk apa juga aku menjelaskan!" geram Reza yang merasa kesal.
Merasa sangat kesal dengan Sintia yang selalu bertanya-tanya dan menuduh hal yang tidak-tidak, Reza pun akhirnya meninggalkan Sintia. Reza segera bergegas pergi ke kamar, sedangkan Sintia sedang menonton televisi dikamar.