
Doctor! Doctor!" pekik Reza who immediately ran out called the doctor.
"Father.." cried Sintia who was afraid of losing her papa. Sintia loved her papa because since her mother died, Sintia only lived together with her papa.
Not long after a doctor and nurse rushed to Mr. Eko's room. The doctor immediately examined Mr. Eko's situation. Lucky Mr. Eko can still be saved and it's okay. Now Mr. Eko's condition is stable again.
"Please don't talk too much" the doctor said.
"The patient had a heart attack, so please do not make the patient worry or think about heavy things," the doctor added again and immediately left the room after injecting Mr. Eko.
"Every doctor" replied Reza who nodded her head.
After seeing the condition of his papa earlier made Sintia think. Maybe he should accept his betrothal to marry Reza. By marrying Reza, Sintia hopes that her papa will recover soon. Sintia does not want if her father why-why and hope healthy as soon as possible. Although Sintia never liked or loved Reza, but she had to do this for the sake of her father.
A few hours after sleeping due to the influence of drugs, Mr. Eko finally woke up. Sintia, who had been waiting for him, immediately ran to his papa.
"Father," said Sintia who immediately hugged her father.
"Bah, I want to be betrothed to Reza," said Sintia lirih. Although very forced, but Sintia had to do this for the sake of the healing of her papa.
"What son? Didn't you hear wrong?" ask Mr. Eko who does not believe what he heard.
"Yes, I want and have been prepared to get married" added Sintia again.
Mendengar hal itu membuat Pak Eko sangat senang. Ia tidak menyangka jika putrinya akan setuju dengan keputusannya.
"Bagaimana Reza, apa kamu juga setuju dengan perjodohan ini?" tanya Pak Eko memastikan.
"Saya juga setuju pak, saya siap menikahi bu Sintia," jawab Reza sopan.
"Papah senang mendengar kabar bahagia ini, mari kita persiapkan acara pernikahan kalian," ujar Pak Eko yang begitu antusias. Seketika Pak Eko pun mulai sehat dan tidak berapa lama, ia pun diperbolehkan untuk pulang.
Beberapa hari setelah kepulangannya dari rumah sakit, Pak Eko pun mulai sibuk menyiapkan acara pernikahan anaknya. Anak satu-satunya yang ia sayangi. Pak Eko hanya ingin Sintia mendapatkan laki-laki yang terbaik. Melihat sosok Reza, Pak Eko sangat yakin dengan pilihannya.
Akhirnya hari bahagia itu datang. Hari ini adalah hari dimana pernikahan Sintia dan Reza akan dilangsungkan. Disebuah gedung yang cukup mewah, semua dekorasi yang ada ditempat itu pun terlihat. Dekorasi yang didominasi warna putih serta bunga-bunga segar semakin menambah keindahan tempat itu.
Setelah semua keluarga hadir dan tamu-tamu mulai berdatangan, acara ijak qobul pun segera dilaksanakan.
"Saudara Reza Rahardian, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Sintia Azkya binti Eko Wijaya dengan mas kawin berupa emas murni 100 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai," ujar pak penghulu sambil menyalami tangan Reza.
"Saya terima nikah dan kawinnya Sintia Azkya binti Eko Wijaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," timpal Reza yang mengucapkan ijab qobul itu denga satu helaan nafas.
"Bagaimana saksi sah?" tanya penghulu kepada para saksi.
"Alhamdulillah," ujar Pak Eko yang langsung mengamini karena akhirnya putrinya bisa menikah dengan laki-laki yang tepat.
"Silahkan suami mincium kening istri, dan istri mencium punggung tangan suami. Semoga pernikahan kalian menjadi keluarga yang sakinnah, mawwadah dan warrohmah," ujar pak penghulu yang turut mendoakan.
"Aamiin," jawab beberapa orang yang mengamini doa pak penghulu.
Sementara Reza dan Sintia hanya saling pandang saat mendengar ucapan pak penghulu.
"Ayo nak," titah Pak Reza.
Perlahan tapi pasti Reza pun mencium pucuk kepala Sintia, begitupun sebaliknya Sintia yang langsung mencium punggung tangan Reza. Tidak seperti pernikahan pada umumnya yang merasa bahagia saat hari pernikahan tiba. Mereka berdua justru terlihat begitu kaku, sebab pernikahan mereka memang bukan kenginan mereka.
Selesai acara ijab qobul itu, kedua pengantin menuju orang tua Reza dan menyalami Pak Eko. Setelah bersalaman dan meminta restu, mereka bergegas menuju pelaminan, tamu undangan pun segera mengantri untuk memberikan ucapan selamat, bahkan berfoto bersama.
"Sampai kapan acara ini akan selesai! Aku sudah lelah," gumam batin Sintia.
Tak terasa hampir seharian penuh Sintia dan Reza menerima tamu. Kini acara pernikahan itu sudah selesai. Pak Eko sudah menyiapkan sebuah rumah yang cukup mewah untuk mereka tinggali sebagai hadiah pernikahan.
"Sekali lagi selamat ya nak, semoga pernikahan kalian selalu langgeng. Semoga pernikahan kalian menjadi keluarga yang sakinnah, mawwadah dan warrohmah," ujar Pak Eko sambil memeluk anaknya.
"Iya pah. Papah baik-baik ya dirumah," lirih Sintia yang merasa sedih harus meninggalkan ayahnya.
"Papah titip sintia ya nak," ujar Pak Eko yang bergantian memeluk Reza.
"Iya pah pasti, aku akan selalu menjaganya," jawab Reza.
Setelah berpamitan pada kedua orang tua Reza dan pak Eko, akhirnya mereka segera bergegas pergi menuju rumah yang sebelumnya sudah disiapkan. Satu jam kemudian akhirnya mereka tiba disebuah rumah yang cukup mewah. Sintia berjalan mendahului Reza. Sedangkan Reza mengekor dibelakang sambil menyeret 2 buah koper besar miliknya dan juga Sintia.
Tak terasa malam kini telah tiba, akan tetapi Sintia justru memilih pisah kamar dengan Reza. Sintia tidur dikamar utama, sedangkan Reza tidur dikamar yang berada cukup jauh dari Sintia.
"Maaf aku masih belum bisa melakukan itu, sebab aku sedang datang bulan," ujar Sintia yang berusaha menolak secara halus. Padahal sebenarnya ia tidak sedang datang bulan.
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Aku harap suatu saat kamu bisa menerimaku," jawab Reza yang selalu bersikap bijaksana. Tidak ada rasa curiga sedikitpun yang ia rasakan. Reza pun segera bergegas menuju kamar yang satunya dengan membawa koper miliknya.
Sungguh naas, seharusnya sebagai pengantin baru mereka mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Tapi tidak dengan mereka berdua. Sintia yang merasa terpaksa tidak mau dirinya disentuh oleh laki-laki yang tidak dicintainya. Sedangkan Reza berusaha untuk tetap bersabar menanti malam pertama itu. Meski ia tidak mencintai Sintia, tapi Reza akan berusaha mencintainya.
Ditempat lain Pak Eko merasa bahagia karena akhirnya ia bisa menyaksikan putrinya menikah dengan laki-laki yang tepat.
Flashback Off
Mungkin karena itulah yang membuat Sintia selalu tidak menyukai Reza. Bahkan sudah berbulan-bulan pun Sintia masih tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Reza yang selalu bersabar dan bijaksana tidak pernah mempermasalahkan itu semua. Yang ia ingat hanyalah sebuah janji kepada Pak Eko yang akan selalu menjaga putrinya.