RUINED MY HOPE

RUINED MY HOPE
33. Suspicion Arin


While Arin feels still suspicious about what really happened with her husband. Almost overnight Arin could not close his eyes. Arin was still thinking about her husband who was suddenly injured.


"What actually happened, brother? Why is my sister hurt?" inner murmur Arin.


"Why do I feel lately that Reza's sister is hiding something" murmured Arin again.


"What actually happened, brother? Why is it that you get suddenly hurt?" asked Arin once again who saw Reza was preparing to go to the office.


"Sister said, brother fell yesterday to make my lips bleed," cried Reza with a voice so loud. Reza never said that before. Reza always spoke softly to Arin. But lately I don't know what happened to her husband.


"Don't go to work yet?" pamit Reza who immediately rushed to the office.


"Yes, sister" answered Arin briefly and did not turn to her husband. As a woman Arin was never treated like that.


Arin felt very hurt by Reza's words. Reza never raised his voice to Arin. But this time, I don't know what happened to Reza. He never did this before.


Though Arin is pregnant, Arin will soon give birth to the fruit of his love with Reza. Reza should have paid more attention to his wife, instead of snapping at Arin.


"Your work, brother," murmured Arin with teary eyes.


Before leaving, Reza only saw Arin from a distance. There was no apology he said. Reza immediately rushed away from his house without pecking at Arin's head. Normally Reza would do that, but it's been a few days that Reza hasn't done it.


"Maafkan kakak Rin, kakak khilaf," gumam batin Reza saat dalam perjalanan.


"Kenapa akhir-akhir ini aku menjadi seperti ini," gumam batin Reza lagi.


Semenjak bertemu dengan Sintia, pikiran Reza mulai teralihkan. Entah mengapa Reza tiba-tiba selalu memikirkan tentang Sintia. Entah karena Reza mulai mencintainya, atau ada hal lain yang membuat Reza seperti itu.


Sementara ditempat lain, Sintia juga masih memikirkan tentang kejadian kemarin. Sintia merasa takut dengan ancaman Panji. Sintia takut jika Panji tiba-tiba datang membawa Zidan pergi jauh darinya. Kali ini Sintia harus lebih waspada dan hati-hati.


Dari kejauhan Panji masih mengintai rumah Sintia dari kejauhan. Panji memperhatikan arah sekitar dan berusaha menghampiri Sintia lagi. Akhirnya Panji pun segera menghampiri  Sintia yang baru saja keluar dari rumahnya.


"Sintia," panggil Panji yang datang lagi ke rumahnya.


"Sedang apa kamu  disini mas?" pekik Sintia yang terkejut dengan kedatangan Panji.


"Sudah aku katakan aku ingin membicarakan sesuatu," jawab Panji.


"Ada apa lagi kamu kesini mas?" tanya Sintia yang merasa terganggu dengan kedatangan Panji.


"Tolong berikan aku waktu, aku hanya ingin berbicara kepadamu," ujar Panji sambil memohon.


"Oke akan aku berikan waktu beberapa menit untuk bicara," tukas Sintia yang segera duduk di kursi teras rumah seraya melipat tangannya.


Setuju dengan Sintia, Panji pun mulai duduk dan menceritakan maksud kedatangannya. Beruntung Zidan sudah pergi ke sekolah sehingga Sintia merasa jauh lebih tenang. Mungkin setelah menyampaikan maksudnya, Panji tidak akan mengganggu Sintia lagi.


"Begini Sintia, sebelum nya aku ingin meminta maaf atas kesalahanku. Aku menyesal karena sudah mengkhianati dan membiarkanmu pergi dari rumah," lirih Panji yang menyesali perbuatannya.


"Apa? Setelah berbulan-bulan kamu mengusirku kamu bilang menyesal mas? Helo selawa ini kamu kemana aja?" tanya Sintia yang merasa bingung harus berbuat apa. Sebenarnya Sintia merasa sakit hati atas perbuatan Panji kepadanya. Bahkan hingga saat ini Sintia masih merasa kesal dengan perbuatan Panji.


menyesali perbuatanku," lirih Panji sekali lagi.


"Mungkin aku bisa memaafkanmu mas, tapi aku tidak pernah bisa melupakan kejadian itu," lirih Sintia.


"Aku juga ingin kita bersama lagi Sintia, aku mohon," lirih Panji.


"Apa? Apa aku tidak salah dengar? Lalu wanita itu, akan kamu kemanakan?" tanya Sintia yang tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Tidak Sintia, kamu tidak salah dengar. Aku, aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya," jawab Panji.


"Maaf aku tidak bisa mas. Maaf aku harus bekerja mas, ini sudah terlalu siang," pamit Sintia yang segera mengunci pintu rumahnya.


"Tapi kenapa Sintia? Apa semua ini karena mantan suamimu dulu? Bukankah dia sudah memiliki istri? Setidaknya lakukan ini demi anak kita Sintia," ujar Panji lagi.


Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Sintia. Dia tidak menghiraukan kata-kata Panji. Sintia tetap melangkahkan kakinya meninggalkan Panji.


"Sintia tunggu," pekik Panji.


"Maaf aku sudah terlambat," ujar Sintia yang langsung pergi meninggalkan Panji. Dan hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.


"Sintia tunggu, aku belum selesai berbicara," pekik Panji.


"Maaf mas aku sudah terlambat," teriak Sintia yang kebetulan ada sebuah taksi yang melintas dihadapannya.


Panji pun merasa kecewa dengan sikap Sintia yang seperti itu. Padahal Panji benar-benar tulus ingin meminta maaf kepada Sintia. Tapi Panji tidak memiliki pilihan lain karena Sintia benar-benar pergi meninggalkannya.


Melihat Sintia yang sudah pergi jauh, Panji pun bergegas pulang.


"Aku merasa heran setelah sekian lama, mas Panji tiba-tiba datang meminta maaf dan mengajak kembali. Apa yang harus aku lakukan?" gumam batin Sintia saat sedang didalam mobil. Pikirannya tidak tenang memikirkan hubungannya dengan Panji.


"Apa aku harus menerima mas Panji kembali? Tapi aku tidak bisa bersamanya lagi, hatiku sudah sangat sakit hati. Apa yang harus aku lakukan?" gumam batin Sintia.


Sepanjang perjalanan Sintia terus saja memikirkan hubungannya dengan Panji. Sesampainya dikantor, Sintia segera bergegas ke ruangannya. Sintia mulai menyibukkan dirinya agar ia tidak memikirkan semua itu.


Namun baru saja Sintia akan memulainya, tiba-tiba Reza masuk ke dalam ruangannya.


"Sintia, apa Panji tidak mengganggu lagi?" tanya Reza yang baru saja datang.


"Tidak, dia tidak menggangguku lagi," jawab Sintia yang terpaksa harus berbohong. Sintia tidak ingin jika ia harus membicarakan masalah pribadinya dikantor.


"Baiklah aku akan meninggalkanmu," ujar Reza yang segera meninggalkan ruangan Sintia.


"Syukurlah akhirnya dia pergi juga dari sini," gumam batin Sintia yang membuang nafasnya secara kasar.


Tanpa banyak bicara Sintia pun mulai mengerjakan pekerjaannya. Sintia ingin segera menyelesaikan semuanya agar ia bisa pulang lebih awal. Akhir-akhir ini Sintia selalu sibuk dengan pekerjaannya dan ia ingin menghabiskan waktunya dengan Zidan anaknya.


"Maafkan mamah nak, selama mamah mulai bekerja, mamah kurang perhatian sama Zidan," gumam batin Sintia yang semakin bersemangat dalam melakukan pekerjaannya. Meski lelah tapi Sintia harus melakukan ini semua hanya karena Zidan.