
Elsewhere Reza was still agitated because he had been thinking about Sintia who did not go to work today.
"Where Sintia today did not go to work, is he okay," muttered the inner Reza who from morning looking for the existence of Sintia but did not see me.
"After my work is done I will go to his house, I am afraid if Sintia why," muttered Reza again who was worried.
A few minutes later, Reza finished all her work. Reza was impatient to see Sintia soon. Reza rushed over immediately
towards the house of Sintia.
Reza almost half ran towards the parking lot. He immediately looked for the whereabouts of his car and rushed towards Sintia's house.
With a very high speed Reza drove his vehicle, until finally an hour later Reza arrived in the yard of Sintia's house.
Tok..
"Sintia, Sintia," cried Reza from outside the house while knocking on the door.
Reza knocked on the door several times, but there was no reply from the owner.
"Where is Sintia?" reza's inner murmur is now sitting on the porch of the house.
While waiting, Reza took out her flat object from her pants pocket. He tried to contact Sintia but the results were nil. He didn't answer the phone, even the message was just read.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya datanglah sang pemilik rumah.
"Maaf tuan apa anda mencari Bu Sintia," ujar ibu sang pemilik rumah yang kebetulan akan mengambil sesuatu dirumah Sintia.
"Iya bu, apa ibu tahu kemana dia pergi?" tanya Reza yang merasa senang karena ada yang mengetahui keberadaan Sintia.
"Setahu ibu kemarin ada suaminya yang menjemput pak," jawab pemilik rumah itu.
"Apa? Ibu yakin yang menjemputnya itu suaminya?" tanya Reza yang tak percaya setelah mendengar itu.
"Iya pak, Bu Sintia sendiri yang cerita kepada saya. Jika mereka akan rujuk pak," tambah ibu pemilik rumah itu yang segera bergegas masuk ke rumahnya.
Sementara Reza masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ada perasaan kecewa yang Reza rasakan saat mengetahui kebenaran itu.
"Apa Sintia benar-benar kembali kepada Panji?" gumam batin Reza yang masih tidak percaya.
Merasa kecewa dengan apa yang didengarnya, Reza akhirnya memutuskan untuk segera pulang. Reza mengendarai kendaraannya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Saking cepatnya, akhirnya Reza tiba dirumah setengah jam kemudian. Sesampainya dirumah wajah Reza terlihat begitu kusut dan muram.
"Assalamualaikum," ucap Reza sesampainya dirumah.
"Waalaikumsalam kak," jawab Arin yang segera menyalami punggung tangan kanan suaminya.
"Kakak mau langsung makan apa mandi dulu?" tanya Arin kepada suaminya.
"Kakak ingin langsung istirahat saja," lirih Reza yang segera bergegas menuju kamarnya
"Loh kak Reza kenapa? Apa dia sedang sakit?" gumam batin Arin yang melihat suaminya tidak biasa seperti itu.
Biasanya Reza akan mandi setelah itu makan bersama. Namun entah mengapa hari ini Reza terlihat begitu berbeda tidak bergairah. Dia terlihat seperti orang yang sakit dan banyak pikiran.
Merasa khawatir melihat keadaan suaminya, Arin pun segera bergegas ke kamarnya membawakan segelas minum.
"Kakak kenapa? Apa kakak sedang sakit? Apa kakak mau dibuatkan sesuatu?" tanya Arin yang meletakan air putih di atas meja.
"Kakak tidak ingin apa-apa. Kakak hanya ingin istirahat saja Rin," jawab Reza yang kini terbaring diatas kasur dan memakai selimut.
"Ya terima kasih," jawab Reza singkat.
Di dalam kamar Reza merasa tidak mau apa-apa. Reza memikirkan perasaannya pada Sintia yang tiba-tiba kembali kepada suaminya. Padahal sebenarnya siapa Reza, dia tidak berhak ikut campur dalam rumah tangga Sintia.
Tapi pada kenyataannya Reza justru merasa sedih saat mengetahui Sintia kembali kepada suaminya. Hampir semalaman Reza tidak keluar dari kamar.
"Kenapa sejak pulang kerja kak Reza tidak keluar dari kamar ya? Apa yang sedang dia pikirkan? Apa dia sedang ada masalah," gumam batin Arin yang merasa khawatir pada suaminya.
Ketika malam tiba, akhirnya Arin masuk ke dalam kamar untuk menidurkan buah hatinya. Setelah menidurkan Quenza didalam box bayi, Arin segera tidur menuju ranjangnya.
"Kak," ujar Arin yang memeluk suaminya dari belakang.
Namun tidak ada jawaban dari Reza, bahkan dia membelakangi Arin semalaman.
"Ada apa dengan kak Reza? Kenapa kak Reza tidak seperti biasanya?" gumam batin Arin lega.
Reza memang tidak biasanya seperti itu. Sepulang kerja, Reza pasti akan membantu Arin memomong anaknya meski ia merasa lelah setelah seharian bekerja. Tapi untuk hari ini Reza tidak terlihat seperti biasanya.
Arin pun melepaskan pelukannya karena Reza mungkir sudah tidur pulas. Padahal Reza hanya pura-pura memejamkan matanya. Sejak pulang kerja tadi, Reza tidak henti-bentinya memikirkan Sintia.
Arin pun membiarkan suaminya tertidur.
"Mungkin besok kamu akan merasa lebih baik kak?" gumam batin Arin lagi.
Keesokan harinya Arin bangun lebih awal. Seperti Biasanya Arin sudah berkutat di dapur meski ada asisten rumah tangga yang membantunya. Akan tetapi hal itu tidak membuat Arin bermalas-malasan.
Arin sengaja memasak soto ayam kesukaan Reza agar ia lebih bersemangat.
"Makan dulu kak," ujar Arin saat Reza keluar dari kamarnya.
"Iya Rin," jawab Reza yang segera duduk di meja makan.
"Apa sebaiknya aku menanyakan tentang penyebab kenapa kak Reza bersikap seperti itu sejak kemarin? Tapi mungkin nanti saja aku menanyakan tentang hal itu," gumam batin Arin.
"Kenapa Rin? Kamu tidak ikut makan?" tanya Reza yang malah kebingungan melihat Arin tiba-tiba terdiam.
"Aku nanti saja kak," jawab Arin singkat.
Reza pun akhirnya melanjutkan memakan makanannya kembali. Beberapa saat kemudian Arin mulai menanyakan tentang keadaan suaminya.
"Apa sekarang kakak sudah lebih baik?" tanya Arin canggung.
"Iya kakak baik-baik saja, kakan tidak apa-apa," jawab Reza yang terlihat berbeda dari kemarin.
"Syukurlah," ujar Arin yang merasa lega setelah mengetahui suaminya tidak apa-apa.
"Ya sudah kalau begitu kakak pergi ya," pamit Reza yang segera bergegas menuju kantornya. Seperti biasa Arin mengecup punggung tangan kanan suaminya, sementara Reza mencium kening Arin sebelum ia pergi.
"Maafkan kakak Rin, Kakak tidak bisa menjelaskan masalah yang sebenarnya," gumam batin Reza saat dalam perjalanan.
Tak terasa setelah beberapa saat mengendarai kendaraannya, akhirnya Reza tiba di kantor. Saat ia baru saja turun dari mobilnya, Reza melihat Sintia yang baru saja keluar dari ruang HRD.
Sintia berencana untuk mengundurkan diri setelah ia kembali kepada suaminya. Panji tidak memberikan izin kepada Sintia untuk bekerja lagi, maka dari itu hari ini Sintia memutuskan untuk resign dari kantor.
"Sintia," panggil Reza yang baru melihat Sintia.
"Ada apa lagi Za?" tanya Sintia yang menautkan kedua halisnya.