RUINED MY HOPE

RUINED MY HOPE
40. The Painful Day


A few days later being at the grandmother's house made Bu Sofia's condition improve. Now Bu Sofia does not lie down much, even Bu Sofia today wants to take a bath using warm water.


It was not wasted by Arin. This time Sofia wants to be bathed by Arin.


"Don't help me take a shower, I'm asking you to rub the back of my mother's back" said Sofia, who was sitting on a desk chair while waiting for Arin to cook water.


"Yes ma'am" replied Arin happily. Although at the age of just 15 years but Arin looks so mature. Arin understood what he had to do.


A few minutes later the water was ready. Arin deftly immediately poured hot water from the pot into the bucket. After that Arin immediately cools the hot water with ordinary water.


In the bathroom, Sofia was waiting while sitting in a small chair. Slowly Arin poured the warm water to all parts of the body Bu Sofia. Arin immediately soaped Bu Sofia, especially the back that was not touched by Bu Sofia.


After that Arin gave shampoo to his mother's hair. Not long after, Sofia finally finished her bath. He immediately put on his clothes and sat down on a chair near the dining table.


Arin also took the initiative to comb her mother's long hair unraveled. Slowly Arin began to comb the long hair. From behind Arin just kept staring at his mother. Sometimes Arin thinks of the worst thing in his life, but he immediately brushes those bad thoughts out of his mind.


"Isn't it cold mom?" arin asked while combing her mother's long hair.


"No son, I feel fresher after a few days of not taking a shower" the mother replied.


Hearing that made Arin feel happy. Arin is happy because her mother now looks healthier.


"Hopefully the mother will be healthy always and live a long life," muttered Arin expectantly while combing his mother's long hair.


"After this mother ate yes, Arin bribe," Arin said again after he finished combing his mother's hair.


Bu Sofia hanya mengangguk layaknya anak kecil yang menuruti kata-kata ibunya. Dari tangan Arin, Bu Sofia makan begitu banyak hingga ia merasa kekenyangan.


"Sudah cukup Rin, ibu sudah kenyang," ujar Bu Sofia.


"Oh iya bu,"jawab Arin yang segera meletakan piringnya diatas meja.


"Antar ibu ke kasur," ujar Bu Sofia yang kini menggandeng tangan Arin.


"Mari bu," tukas Arin yang kini berjalan disamping ibunya.


Mereka berjalan bergandengan tangan. Arin segera mengantar mamahnya ke atas kasur yang terletak ditengah rumah. Arin pun membaringkan ibunya dan menyelimutinya.


"Sekarang mamah istirahat ya," ujar Arin selepas menyelimuti ibunya.


"Iya sayang terima kasih," tukas Bu Sofia.


"Sama-sama mah," ucap Arin yang mengecup pucuk kepala ibunya.


Melihat ibunya tertidur, Arin pun merasa lega akhirnya ia tertidur pulas. Arin akhirnya pergi ke kamar untuk istirahat sejenak sambil mengecek ponsel barangkali ada pesan yang penting. Hingga akhirnya Arin pun mengerjakan matanya sejenak.


"Teteh, teteh.." terdengar suara Bi Marni berteriak.


"Ada apa ya kok berisik sekali," ujar Arin yang terperanjat mendengar teriakan Bi Marni. Spontan Arin pun setengah berlari melihat keadaan Bu Marni.


"Ada apa bi?" tanya Arin yang kini melihat Bi Marni menangis di dekat kasur ibunya.


"Kenapa mamah bi?" tanya Arin yang kini menatap ibunya masih tidur dengan pulsanya.


"Mamah kenapa bi?" tanya Arin sekali lagi dengan tegas.


"Mamah sudah pergi dengan tenang Rin," lirih Bi Marni.


"Apa? Tidak mungkin!" pekik Arin yang kini menangis. Arin masih tidak percaya dengan apa yang di lihat dan di segarnya. Arin merasa jika ibunya sudah sehat kembali sejak kemarin. Bahkan Arin tidak mau membayangkannya walau hanya sesaat.


Sebagai manusia, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada kehidupan kita di masa mendatang. Arin merasa jika hidup ibunya akan sehat kembali, akan tetapi diluar dugaannya ternyata Tuhan berkehendak lain.


Arin terus saja menangis meratapi kepergian ibunya. Arin tidak bisa menghentikan tangisannya. Ia terus saja terisak menyaksikan kepergian ibunya. Arin sayang, Arin yang malang.


Jasad ibu Arin pun kini di mandikan, lalu dishalatkan, setelah itu jenazah di bawa ke TPU (Tempat Pemakaman Umum). Semua keluarga ikut menyaksikan saat Bu Sofia dikuburkan. Air mata Arin tak tertahankan saat ibunya di masukan ke dalam liang lahat. Air matanya semakin deras.


Bi Marni yang berdiri disamping Arin beberapa kali mengusap punggung Arin sebagai tanda menguatkan Arin.


"Yang sabar nak, ibumu sudah tenang di alam sana. Sekarang dia tidak akan merasakan sakit lagi," lirih Bi Marni yang kini mengusap air mata Arin yang sejak tadi tumpah.


Tidak ada jawaban apapun dari mulut Arin selain tangisan. Di dalam hidupnya hari ini merupakan hari yang sangat menyakitkan. Selama hidupnya baru kali ini Arin merasakan kehilangan yang begitu teramat dalam.


Semua sanak saudara ikut menyaksikan saat Bu Sofia dikebumikan. Termasuk beberapa orang tetangga yang rumahnya tidak begitu jauh, mereka menyempatkan diri untuk datang ke kampung halaman Bu Sofia.


Hampir semua orang memberikan dukungan pada Arin agar bersabar dalam musibah ini. Namun kata-kata dari mereka tidak bisa menghentikan air mata Arin yang terus saja mengalir. Tak terasa setelah rangkaian acara pemakaman pun ditutup dengan doa.


Semua orang membubarkan diri, namun Arin masih ingin berada dipusara ibunya. Arin masih meratapi kepergian ibunya. Arin masih merasa sedih saat kehilangan ibunya.


"Jangan tinggalkan Arin bu," lirih Arin yang masih saja menangis.


"Sudah nak, jangan menangis," timpal Bi Marni yang langsung menggandeng Arin untuk pulang..


"Tapi Arin masih ingin disini bi," jawab Arin yang menolak ajakan Bi Marni.


Akan tetapi Bi Marni tetap mengajak Arin


pulang karena hari mulai gelap.


Flashback Off


Tak terasa air mata itu menetes saat Arin mengingat kepergian ibunya. Bahkan butuh beberapa tahun lamanya bagi Arin bisa bangkit kembali. Arin dulu merupakan anak yang periang, ceria serta humoris. Semenjak kepergian ibunya membuat Arin berubah. Arin cenderung menjadi anak yang pendiam.


Bahkan saat ia tumbuh dewasa pun Arin masih saja pendiam.


Eaa... eaa..


Tangisan Quenza pun seketika membuyarkan lamunan Arin.


"Sayang, cup.. cup.." ujar Arin sambil menggendong bayinya. Akan tetapi tangisan Quenza masih tidak berhenti. Hingga akhirnya Arin memberikan ASInya, setelah beberapa saat bayi itu tertidur kembali. Mungkin dia merasa lapar.


Beberapa saat Arin menyusui Quenza akhirnya Arin ikut tertidur disamping Quenza. Seharian mengasuh Quenza membuat Arin merasa cepat lelah.